Karhutla Ulah Manusia, Tindak Tegas Pelakunya!

25 August 2026 08:03

Jakarta: Polri menetapkan 72 tersangka dalam kasus kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah. Saat ini ribuan titik panas dan titik api telah terdeteksi. Upaya pemadaman terus dilakukan.


Pengungkapan pidana karhutla


Tersangka kebakaran hutan dan lahan ditangani oleh 9 kepolisian daerah atau polda, yaitu ada 4 provinsi di pulau Sumatra, yaitu Riau, Sumatra Selatan, Jambi, dan Aceh.

Kemudian di seluruh Kalimantan. Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Total ada 15 barang bukti dalam kasus ini, di antaranya korek api, bahan bakar minyak seperti solar, bensin, dan minyak tanah.

Ada juga sejumlah alat atau peralatan seperti parang, kapak, cangkul, dan juga gergaji mesin. Lalu ada bekas-bekas kebakaran seperti batang kayu yang terbakar. Kemudian ada 5 sampel tanah terbakar. Selain itu juga ada temuan barang bukti berupa bibit sawit dan juga polibag. 

Temuan dan tindak lanjut karhutla


Sementara itu temuan terkait kondisi kebakaran hutan dan lahan yang disampaikan Polri, di antaranya ada luasan lahan yang terbakar kini telah mencapai lebih dari 64 ribu hektare. Menurut kepolisian titik api atau kebakaran ditemukan di 9 provinsi, dengan lebih dari 7.800 titik api atau kebakaran yang sudah terjadi. Ini merupakan data per tanggal 22 Agustus 2026 ini. 

Hasil penanganan sementara sudah ada 62% titik api atau kebakaran hutan dan lahan yang sudah dipadamkan. Dan ada sekitar 71 ribu personil dari kepolisian yang telah disiagakan. Ini menjadi kerjasama baik dengan TNI ataupun BNPB dan BPBD setempat untuk menangani kebakaran hutan dan lahan di titik-titik rawan.

Meskipun sudah ada klaim bahwa 62% kebakaran ini telah dipadamkan, itu bukan berarti ancaman kebakaran hutan dan lahan sudah menurun. Karena data terbaru dari BMKG menunjukkan bahwa sebaran titik panas atau hotspot berdasarkan citra satelit yang sebarannya cukup merata.

Tapi yang paling terkonsentrasi adalah di Pulau Sumatra. Kemudian Kalimantan dan hingga sampai ke Papua. Data hotspot terbanyak adalah di wilayah Papua dan Maluku, ada lebih dari 3.700 titik panas atau hotspot. Kemudian di Kalimantan 3.022 hotspot. Di Pulau Sumatra mencapai 2.945 hotspot. Kemudian di Nusa Tenggara ada sebanyak 667 hotspot. Kemudian di Sulawesi ada 590 hotspot. Dan di Jawa yaitu 224 titik. 

Jejak berulang 2023-2025


Kebakaran hutan dan lahan menjadi peristiwa yang berulang di Indonesia setiap tahunnya. Tidak memandang apakah kondisi cuaca cenderung basah atau kering. Angka kebakaran hutan di 3 tahun terakhir ini masih cukup signifikan. Jika dibandingkan dari 2023 sampai 2025 memang ada penurunan jumlah titik panas di Indonesia.

Kalau dilihat dari luasan lahan yang terbakar dalam 3 tahun terakhir memang juga terjadi penurunan sebelum 2026. Misalnya di 2023 ini lebih dari 1,1 juta hektar lahan yang terbakar terus menurun sampai 2025 ada sekitar 359 ribu hektar lahan.  Tapi di tahun 2026 ini masih menantikan data terkini.

Meskipun angka kebakaran hutan dan lahan mengalami penurunan bukan berarti tidak ada ancaman. Apalagi saat ini Indonesia harus muaspadai fenomena iklim El Nino yang intensitasnya kuat bahkan dijuluki sebagai El Nino Godzilla.

Jika tidak diantisipasi maksimal maka El Nino intensitas kuat disebut bisa menyebabkan kebakaran hutan dan lahan. Separah tahun 2015 yang menghanguskan sekitar 2,6 juta hektar lahan.  Indonesia juga pernah mengalami kebakaran hutan dan lahan yang sangat parah di tahun 2019. 

Karhutla akibat ulah manusia


Kepala BNPB saat itu Doni Monardo menyebutkan bahwa penyebab kebakaran hutan dan lahan 99 persennya adalah ulah manusia.  Pernyataan dari BNPB yang sampai saat ini masih diposting oleh website Sekretariat Kabinet RI. Baik karena disengaja maupun karena kelalaian sebagian besar ini karena adanya faktor manusia.

Bahkan BNPB saat itu menyebut 80 persen lahan yang terbakar pada akhirnya menjadi kebun atau tujuannya adalah untuk pembukaan lahan. Temuan ini didasarkan pada pemantauan di lapangan dimana lahan yang sudah ditanami justru tidak terbakar. Artinya faktor cuaca bukanlah satu-satunya penjelasan.

Kondisi kering akibat El Nino dan panjangnya hari tanpa hujan ini membuat api lebih mudah menyebar. Namun sumber api tetap banyak berkaitan dengan aktivitas manusia dan inilah yang menjadi pertanyaan penting. Kalau polanya sudah teridentifikasi sejak 2019 sebetulnya mengapa karhutla dan juga pembakaran lahan masih terus berulang sampai dengan 2026.

Penetapan 72 tersangka tentu menjadi langkah tegas. Tapi penegakan hukum tidak boleh berhenti pada pelaku di lapangan. Yang lebih penting bagaimana memastikan pembakaran hutan dan lahan tidak terus berulang dan siapa yang terlibat termasuk aktor besar dibaliknya ini harus ditindak.

Sumber: Redaksi Metro TV

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X