Produksi Padi di Pati Anjlok 20 Persen Akibat Cuaca Ekstrem dan Lonjakan Biaya Produksi

10 June 2026 14:42

Petani di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, tengah menghadapi tekanan berat. Kombinasi antara cuaca ekstrem yang tidak menentu dan naiknya dolar Amerika Serikat terhadap rupiah menyebabkan produksi padi di wilayah tersebut mengalami penurunan signifikan hingga 20 persen.

Kondisi ini salah satunya terpantau di Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati. Penurunan hasil panen ini dirasakan hampir merata oleh seluruh petani di wilayah tersebut. Jika biasanya petani mampu memanen hingga 10 ton per hektare, kini merosot menjadi hanya sekitar 8 ton per hektare.

Ketua Serikat Petani Pati, Kamelan, mengungkapkan bahwa ketidakstabilan cuaca menjadi faktor utama terhambatnya pertumbuhan tanaman padi. Cuaca yang cenderung ekstrem mengganggu proses penyerbukan tanaman padi akibat tingginya intensitas hujan dan angin kencang.

Selain faktor alam, beban petani semakin berat akibat kondisi ekonomi makro. Naiknya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah berdampak langsung pada meroketnya harga sarana produksi pertanian (saprotan) dan pupuk non-subsidi.
 

Baca juga: Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu Cianjur Terpaksa Setop Produksi

Kenaikan biaya produksi ini memaksa petani harus berhitung dengan biaya produksi yang semakin tinggi. Karena modal yang terbatas, banyak petani terpaksa mengurangi intensitas pemupukan dan penyemprotan obat-obatan tanaman jika dibandingkan dengan kondisi normal.

"Petani cenderung menahan untuk melakukan penyemprotan dan pemupukan yang maksimal karena harga obat-obatan dan pupuk non-subsidi itu mahal," tambah Kamelan.

Situasi ini menempatkan petani pada posisi sulit. Di satu sisi, tanaman membutuhkan perawatan ekstra untuk menghadapi cuaca ekstrem, namun di sisi lain, biaya sarana pertanian yang tinggi membuat perawatan tidak bisa dilakukan secara maksimal.

(Anggie Meidyana)