Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melakukan perjalanan ke Beijing minggu ini, tepatnya pada 13 sampai 15 Mei 2026. Kunjungan ini menandai kehadiran pertama Presiden AS ke Tiongkok dalam hampir satu dekade, sejak kunjungan terakhir Trump pada 8-10 November 2017 lalu.
Saat Trump dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, bersiap untuk bertemu, kedua negara menyatakan bahwa hubungan mereka relatif stabil dan mereka ingin mempertahankannya. Tetapi masih terdapat beberapa masalah sensitif yang belum terselesaikan.
Fokus Utama: Nuklir Iran dan Selat Hormuz
Taiwan masih menjadi isu paling sensitif, dengan Beijing menyebutnya sebagai risiko terbesar bagi hubungan tersebut. Tetapi Gedung Putih telah mengatakan bahwa mereka tidak mengharapkan perubahan apapun dalam kebijakan Amerika Serikat.
Perang di Iran juga masuk dalam agenda utama. Washington mendesak Tiongkok untuk menggunakan pengaruhnya terhadap Teheran. Meski isu Taiwan juga krusial, namun perang Iran menjadi perhatian banyak pihak dalam pertemuan Trump dan Xi Jinping.
Trump Sebut Proposal Perdamaian Iran Bodoh hingga Klaim Menang atas Teheran
Sebelum keberangkatan ke Tiongkok, dinamika antara Amerika Serikat dan Iran berlangsung panas. AS dan Iran kembali menemui jalan buntu untuk mengakhiri perang. Sementara kesepakatan gencatan senjata semakin rentan, karena kedua pihak saling baku tembak dalam beberapa hari terakhir di Selat Hormuz.
Presiden Donald Trump juga menyebut proposal terbaru dari Iran untuk mengakhiri perang sebagai usulan yang bodoh dan memprediksi adanya kemenangan total bagi Amerika Serikat di Iran. Penegasan tersebut disampaikan Trump di Ruang Oval Gedung Kepresidenan di Washington DC, ketika media bertanya tentang usulan perdamaian terbaru dari Iran.
Trump mengklaim bahwa secara militer, Angkatan Laut Iran sudah tidak berdaya, dengan menyebut armada mereka kini hanya menyisakan kapal-kapal cepat kecil setelah armada utamanya dilumpuhkan oleh AS. Ia juga menambahkan bahwa Iran saat ini tidak memiliki Angkatan Udara maupun sistem anti-pesawat yang memadai.
Di sisi lain, pihak Teheran melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa Amerika Serikat selalu memberikan tuntutan yang tidak masuk akal dalam proposal damainya. Ia menyatakan bahwa respons Iran atas proposal perdamaian AS tidaklah berlebihan.
Iran menegaskan bahwa mereka selalu siap untuk bertempur kapanpun, namun tetap membuka jalur perundingan diplomasi. Pihak Iran menyebut proposal mereka untuk membuka kembali Selat Hormuz adalah tuntutan yang sah, murah hati, dan bertanggung jawab. Pernyataan Baghaei ini disampaikannya usai Presiden Trump geram atas respons Iran terkait proposal damai Amerika Serikat.
Tiongkok Sebagai Pemegang 'Kartu Truf'
Guru Besar Politik Internasional dari Universitas Pelita Harapan, Aleksius Jemadu, menilai bahwa kunci dari deeskalasi Iran dan Amerika Serikat terletak pada masalah nuklir. Trump berusaha menggunakan tangan Tiongkok untuk menekan Iran terkait pengayaan uranium.
Jika Trump gagal membujuk Xi Jinping dalam hal ini, maka ketegangan di Selat Hormuz berisiko memicu perang yang lebih luas dan eskalasi militer yang lebih dahsyat. Jemadu menekankan bahwa tanpa kompromi soal nuklir, dunia akan menghadapi ketidakpastian besar.
"Karena kalau itu tidak dipenuhi oleh Iran, itu suatu kegagalan besar bagi Presiden Trump di mata Amerika Serikat. Dia (Trump) tidak mencapai apapun dari mobilisasi militer selama ini yang sudah dilakukan," jelas Aleksius yang dikutip Breaking News pada Rabu 13 Mei 2026.
Sejumlah analis memandang isu Iran sebagai fokus utama dan penentu keberhasilan pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping pada Mei 2026 ini. Bahkan isu Iran dapat mengesampingkan isu perdagangan seperti tarif.
Analis menilai posisi tawar Trump dinilai melemah karena ia sangat membutuhkan bantuan Tiongkok untuk mengakhiri perang dengan Iran yang telah menguras sumber daya AS dan memicu lonjakan harga energi.
Tiongkok dianggap memiliki "kartu truf" karena pengaruhnya yang besar atas Teheran. Hal ini memungkinkan Xi Jinping menggunakan isu Iran untuk menekan AS agar memberikan kelonggaran di bidang lain, seperti teknologi semikonduktor atau isu Taiwan.
Sementara itu Tiongkok sebagai importir minyak terbesar berkepentingan untuk menormalisasi aliran energi, namun juga menikmati posisi kuat saat AS terjebak dalam konflik tersebut.
Analis memperkirakan kedua pemimpin setidaknya akan sepakat untuk menurunkan ketegangan demi menstabilkan pasar minyak dunia tanpa harus membuat kesepakatan formal yang besar. Jika AS terlalu keras menekan Tiongkok soal pembelian minyak Iran, pertemuan ini justru bisa memperburuk hubungan strategis kedua negara.
Secara keseluruhan analis menekankan bahwa pertemuan ini bukan sekadar diplomasi bilateral biasa, melainkan dipandang sebagai upaya mendesak untuk mencegah krisis energi global yang lebih parah akibat perang AS-Iran.