Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan terkait fenomena El Nino yang saat ini telah memasuki fase kuat. Kondisi cuaca ini berpotensi terus meningkat menjadi sangat kuat, terutama dampaknya di wilayah Jawa dan Bali.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan bahwa pihaknya telah memprediksi datangnya musim kemarau ekstrem yang berbarengan dengan fenomena El Nino sejak Maret lalu.
Kondisi cuaca ekstrem ini patut diwaspadai karena dapat memicu dampak yang sangat luas pada berbagai sektor strategis, mulai dari ancaman terhadap ketahanan pangan nasional hingga sektor energi.
"Untuk saat ini,
El Nino sudah masuk dalam fase yang kuat dan berpotensi menjadi sangat kuat. Namun, satu hal yang perlu dicatat adalah dampaknya tidak selalu sama pada setiap periode," jelas Teuku Faisal dikutip dari
Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Kamis 6 Agustus 2026.
Ia membandingkan kondisi saat ini dengan siklus El Nino pada 2015 yang juga tergolong sangat kuat. Menurutnya, dampak yang dirasakan bergantung pada dinamika atmosfer dan kondisi suhu muka laut di Indonesia saat ini.
Lebih lanjut, Teuku Faisal merinci sejumlah wilayah di Indonesia yang paling rentan menghadapi cuaca ekstrem akibat siklus alam ini.
"Seiring dengan masuknya musim kemarau, wilayah yang paling awal dan paling terdampak El Nino meliputi NTT, NTB, Bali, Pulau Jawa terutama kawasan pesisir, kemudian Sumatera bagian selatan, serta Papua bagian selatan," ucapnya.