Sedekah Bumi di Bekasi, Upaya Lestarikan Budaya di Tengah Modernisasi

Nopita Dewi • 4 May 2026 12:50

Bekasi: Tradisi sedekah bumi kembali digelar oleh Sanggar Seni Sasak Djikin di Kelurahan Jatimurni, Kecamatan Pondok Melati, Sabtu, 2 Mei 2026. Kegiatan ini dihadiri ribuan warga dan dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni khas Betawi.

Mengusung tema “Menjaga dan Melestarikan Bumi Pertiwi dari Aspek Lingkungan Hidup dan Budaya dalam Bernegara Menuju Indonesia Berjatidiri”, kegiatan ini menjadi bentuk nyata upaya pelestarian tradisi sekaligus penguatan nilai budaya di tengah masyarakat.
 

 

Mengenal Tradisi Sedekah Bumi

Sedekah bumi atau tradisi Babarit merupakan ritual adat tahunan yang telah lama hidup di masyarakat Sunda dan Betawi. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil bumi, rezeki, serta perlindungan dari berbagai bencana. Lebih dari itu, sedekah bumi juga mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Rangkaian kegiatan biasanya diawali dengan doa bersama yang dipimpin tokoh masyarakat atau pemuka agama. Setelah itu, hidangan dari hasil bumi dibagikan dan dinikmati bersama, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.

Ketua Sanggar Seni Sasak Djikin, Marvianus Niman, menegaskan bahwa tradisi ini merupakan warisan turun-temurun yang terus dijaga hingga kini.

“Kalau kita sebetulnya menjalankan tradisi ini dari zaman kakek, turun ke bapak, lalu ke saya. Kalau sampai ke anak kita nanti, itu sudah paling besar yang bisa kita lakukan,” ujar Marvianus.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi, terutama di kalangan generasi muda.

“Hari ini kita di era milenial. Kalau generasi muda tidak punya jati diri, maka bangsa kita tidak akan memiliki nilai-nilai edukasi budaya,” tambahnya.
 

Selain memiliki nilai spiritual, sedekah bumi juga mengandung nilai sosial dan budaya yang tinggi. Tradisi ini menjadi sarana untuk melestarikan gotong royong, memperkuat solidaritas, serta menjaga identitas budaya lokal.

Di tengah perubahan gaya hidup dan menurunnya minat generasi muda terhadap budaya tradisional, keberadaan sedekah bumi menghadapi tantangan tersendiri. Meski demikian, tradisi ini tetap relevan jika dimaknai tidak sekadar sebagai seremoni, melainkan sebagai pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan dan kehidupan sosial.

Melalui pelestarian tradisi ini, masyarakat tidak hanya mempertahankan warisan budaya, tetapi juga menanamkan nilai rasa syukur, kepedulian terhadap sesama, serta tanggung jawab dalam menjaga alam bagi generasi mendatang.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Zein Zahiratul Fauziyyah)