20 October 2026 21:59
Kebakaran yang menimpa KMP Batu Mandi di Pelabuhan Merak mendapat sorotan dari pengamat maritim Kapten Marcellus Hakeng Jayawibawa. Ia menilai terdapat perubahan signifikan dan perbaikan positif dalam penanganan pascakejadian, khususnya pada kesigapan tim evakuasi sehingga seluruh penumpang berhasil diselamatkan tanpa ada korban jiwa.
Kesigapan penanganan tersebut melibatkan sinergi berbagai pihak, mulai dari operator kapal, anak buah kapal (ABK), Basarnas, Polair, KPLP, hingga masyarakat sekitar. Langkah tanggap ini dinilai berhasil meminimalisasi risiko keselamatan jiwa saat musibah terjadi.
"Saya melihat ada perubahan signifikan yang terjadi di ruang lingkup penanganan pascakejadian, di mana kita bisa melihat kesigapan para pihak sehingga dapat meminimalisir risiko yang bisa didapatkan, terbukti dengan tidak ditemukannya sama sekali korban jiwa untuk kecelakaan kali ini," ujar Marcellus dalam tayangan Breaking News Metro TV, Selasa, 20 Oktober 2026.
Mengenai pemicu kebakaran, Marcellus menjelaskan bahwa api pada kapal feri umumnya dapat bersumber dari faktor internal kapal maupun dari muatan kendaraan. Penyebab internal meliputi genangan oli atau percikan api akibat ketidakdisiplinan dalam menjaga keselamatan. Di samping itu, faktor eksternal seperti potensi bahaya dari muatan kendaraan termasuk kendaraan listrik, juga patut diwaspadai.
“Bisa juga terjadi karena faktor-faktor lainnya seperti kendaraan-kendaraan yang ada di atas kapal penumpang tersebut. Saya selalu mengingatkan adanya potensi-potensi tersebut, termasuk ketika kapal-kapal feri mengangkut kendaraan listrik," jelas Marcellus.
Ia menambahkan bahwa kendala utama pemadaman di atas kapal sering kali timbul apabila ABK kurang terlatih dalam merespons penanganan api secara cepat. Selain itu, keberadaan kendaraan berdimensi besar yang menghalangi pancaran sprinkler pemadam turut menyebabkan kobaran api semakin sulit dikendalikan.
Terkait kelaiklautan kapal dan penerbitan izin berlayar, Marcellus menilai pemeriksaan teknis oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) sebetulnya sudah berjalan dengan baik. Namun, tingginya frekuensi pelayaran kapal feri harian menjadi tantangan tersendiri bagi regulator untuk melakukan pengawasan langsung secara terus-menerus.
Oleh karena itu, jaminan keselamatan memerlukan peran aktif seluruh pemangku kepentingan, termasuk nakhoda yang menerbitkan Master Sailing Declaration.
Guna memperkuat sistem keselamatan pelayaran ke depan, Marcellus mendorong integrasi data manifestpenumpang dengan sistem Dukcapil. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan kepastian data dan identitas seluruh penumpang yang berada di atas kapal saat situasi darurat terjadi.