28 August 2026 11:36
Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, resmi meluncurkan program "SMK Go Global" di Balai Diklat Industri Jakarta. Program ini bertujuan untuk menyiapkan hingga 500.000 Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang terampil, kompeten, dan siap bekerja di luar negeri secara legal.
Target utama program ini adalah memanfaatkan bonus demografi Indonesia guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja di berbagai negara Asia dan Eropa yang tengah menghadapi tantangan penuaan populasi. Meski bertajuk SMK, program ini juga terbuka bagi lulusan SMA hingga sarjana.
Menteri Mukhtarudin menjelaskan bahwa SMK Go Global merupakan program direktif Presiden yang akan dijalankan secara bertahap hingga tahun 2029. Strategi utamanya adalah mencocokkan pelatihan dengan kebutuhan pasar (demand-driven).
“Kebutuhan kompetensi sertifikasinya yang oleh nanti BNSP itu juga sesuai dengan kompetensi yang sesuai dengan sektor yang sudah disiapkan. Karena kita akan breakdown itu dari JO, Job Order-nya dulu ada. Negaranya dulu juga ada, sektoralnya sudah ada, jenis pekerjaannya sudah ada, baru kita siapkan kompetensi seperti apa, baru kita latih seperti apa. Jadi ini kita balik dari hilir baru hulu," ujar Mukhtarudin dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Jumat, 28 Agustus 2026.
Dalam pelaksanaannya, Kementerian P2MI bersinergi dengan berbagai kementerian teknis seperti Kementerian Pariwisata, Kesehatan, dan Pekerjaan Umum (PU), serta menggandeng politeknik, migrant center universitas, dan Balai Latihan Kerja (LPK) swasta. Fokus pelatihan mencakup peningkatan keterampilan teknis, sertifikasi dari BNSP, hingga penguasaan bahasa asing.
Sejumlah negara tujuan utama telah dipetakan, di antaranya Jepang, Jerman, Korea Selatan, Singapura, serta beberapa negara di kawasan Eropa. Melalui SMK Go Global, pemerintah berharap tenaga kerja Indonesia tidak hanya unggul secara jumlah, tetapi juga memiliki kualitas tinggi dan perlindungan hukum yang maksimal di kancah internasional