Jakarta: Fenomena El Nino di Indonesia pada 2026 diperkirakan akan mencapai kategori kuat dan berpotensi bertahan hingga awal 2027. BMKG dan BRIN memrediksi puncak musim kemarau yang lebih kering dan panjang akan terjadi pada Agustus. Lalu apa dampaknya terhadap Indonesia dan apa mitigasi yang disiapkan oleh pemerintah dalam menghadapi fenomena ini?
Apa itu El Nino?
Dikutip dari laman BMKG, pengertian El Nino adalah fenomena pemanasan suhu muka laut atau SML di atas kondisi normalnya yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur. Pemanasan SML ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan di samudera pasifik tengah dan mengurangi cora hujan di wilayah sekitarnya. Termasuk seperti di Indonesia.
Dinamika El Nino di Indonesia
Sebagian besar wilayah Indonesia masih diperkirakan berada dalam kondisi relatif kering. Curah hujan kategori rendah diprediksi mencakup sekitar 76,54 persen, sementara kategori menengah sebesar 23 persen dan kategori tinggi hanya sebesar 0,09 persen.
Kondisi kering tersebut terutama berpeluang terjadi di sebagian besar Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta beberapa wilayah Papua. Disimpulkan bahwa dalam 10 hari terakhir di bulan Juli ini diperkirakan akan terjadi curah hujan rendah. Pada pekan ini, tepatnya pada periode 21 hingga 23 Juli, cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Meskipun tidak ada potensi hujan lebat hingga sangat lebat, ada satu wilayah yang perlu waspada yaitu kawasan Sulawesi Tengah.
Ada sejumlah wilayah yang harus diantisipasi akan terjadi curah hujan rendah dan juga tidak ada potensi curah hujan lebat dan sangat lebat kecuali di kawasan Sulawesi Tengah pada periode pekan ini.
Lalu apa dampaknya El Nino terjadi dalam jangka panjang?
Dampak yang akan terjadi di Indonesia, yang pertama adalah krisis air dan juga kekeringan, di mana curah hujan yang jauh berkurang menyebabkan penyusutan debit air secara drastis pada sumber-sumber air.
Di beberapa wilayah seperti Tanggrang dan juga Bogor, penyusutan debit sungai dan juga retaknya lahan pertanian mulai dirasakan oleh sejumlah warga. Kemudian juga ada potensi kebakaran hutan di lahan-lahan gambut. Kemudian juga ada potensi gagal panen khususnya padi dan juga masalah kesehatan, karena udara panas dan juga minimnya pasokan air bersih memicu penyebaran penyakit seperti diare, malaria, dengi dan juga infeksi saluran pernafasan akut atau ISPA.
kalau kita bahas soal ketahanan pangan, musim kering yang bertepatan dengan masa tanam dapat mengganggu produktivitas pertanian. Penurunan produksi gabah memicu resiko lonjakan inflasi dan juga harga pangan nasional. Kemudian juga peningkatan kebakaran hutan karena kekeringan memicu kerentanan kawasan hutan dan lahan gambut di wilayah seperti Sumatera dan juga Kalimantan.
Imbauan BMKG menghadapi El Nino
BMKG telah merangkum sejumlah imbauan kepada masyarakat yang bisa dilakukan sebagai mitigasi, seperti menggunakan tabir surya ketika beraktivitas di luar ruangan. Menurut Kementerian Kesehatan Pemirsa, SPF minimal 30 sangat dianjurkan untuk melindungi kulit ketika beraktivitas di bawah terik matahari.
Kemudian mengonsumsi air putih per hari sebanyak 2 liter dan waspada terhadap hotspot atau kebakaran hutan di lahan-lahan gambut dan juga tidak melakukan pembakaran sembarangan seperti pembakaran sampah ilegal karena dapat menyebabkan asap dan juga kebakaran di lahan-lahan sekitarnya,serta selalu mengakses informasi valid hanya dari BMKG dan juga media-media mainstream.
Mitigasi pemerintah hadapi El Nino
Yang pertama adalah soal ketahanan pangan. Kementerian Pertanian fokus memetakan wilayah rentan, mempercepat tanam dan juga mengoptimalkan sistem pompanisasi serta program cetak sawah. Kemudian ada pengendalian kebakaran hutan. Kementerian Dalam Negeri menginstruksikan pembentukan Satgas Darat di tingkat Kabupaten Kota untuk menyiapkan peralatan pemadaman dan juga menjaga ketersediaan air bersih.
Kemudian juga ada modifikasi cuaca dari pihak pemerintah serta kesiap-siagaan fasilitas Kesehatan, dimana Kemenkes memperkuat mitigasi terhadap penyebaran penyakit yang sensitif terhadap perubahan suhu dan kelembapan ekstrem. Kemenkes mengedepankan upaya promotif dan juga preventif melalui edukasi kepada masyarakat.
Koordinasi lintas sektor untuk optimalisasi peringatan dini dan juga manajemen darurat yang dimonitor oleh BMKG dan juga Kemenko PMK. Koordinasi lintas sektor ini juga sudah menjadi arahan dari Mendagri, dimana Mendagri Tito Karnavian menyebutkan bahwa untuk koordinasi lintas sektor Pemda diharapkan mampu mengantisipasi risiko karhutlah, kekeringan serta gangguan terhadap sektor pertanian dan ketersediaan air secara lebih cepat, terukur dan juga efektif untuk kita menghadapi fenomena El Nino kedepannya di Indonesia.
Sumber: BMKG