Krueng Jalin Tercemar Tambang Ilegal, Destinasi Wisata Terpaksa Ditutup

23 April 2026 11:15

Aceh: Peringatan Hari Bumi di Kabupaten Aceh Besar, Aceh, tahun ini diwarnai ironi. Aktivitas tambang ilegal diduga telah merusak lingkungan, bahkan masuk ke kawasan Cagar Alam Jantho. Dampaknya, kawasan wisata pemandian Krueng Jalin kini ditutup total akibat kondisi air sungai yang keruh.

Aksi protes pun dilakukan oleh Ikatan Pemuda Jantho Lestari bersama Forum Jurnalis Lingkungan Aceh. Mereka turun langsung ke lokasi untuk menyoroti maraknya aktivitas tambang ilegal yang dinilai semakin meluas.

Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, perubahan warna air sungai menjadi indikator nyata kerusakan lingkungan. Sungai yang sebelumnya jernih dan menjadi sumber kehidupan masyarakat kini berubah menjadi keruh pekat.
 



Kondisi ini berdampak langsung pada kehidupan warga. Masyarakat yang sebelumnya bergantung pada sungai kehilangan sumber penghidupan, sementara sektor wisata yang sempat berkembang di kawasan tersebut kini lumpuh total.

Kerusakan lingkungan ini diduga kuat berasal dari aktivitas tambang ilegal yang terus meluas hingga ke kawasan konservasi. Dampaknya bahkan dirasakan hingga aliran Krueng Aceh yang mengalir ke ibu kota provinsi, Banda Aceh.

Anggota Ikatan Pemuda Jantho Lestari, Yusri, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi tersebut.

“Kami bersama Forum Jurnalis Lingkungan melakukan aksi penanaman di Hari Bumi dengan harapan kondisi ke depan bisa lebih baik. Saat ini kita melihat sungai yang dulu hasilnya melimpah, sekarang sudah tidak ada lagi. Airnya sudah terlalu keruh akibat penambangan di hulu Krueng Aceh,” ujar Yusri.

Ironisnya, hingga kini aktivitas tambang ilegal masih terus berlangsung tanpa penindakan tegas. Kondisi ini memunculkan pertanyaan terkait komitmen aparat dalam menangani kejahatan lingkungan.
 

Sebagai bentuk kepedulian, para peserta aksi juga melakukan penanaman puluhan pohon di sepanjang bantaran sungai Jalin. Upaya ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam memulihkan kondisi lingkungan yang terdampak.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar seremoni, melainkan tanggung jawab bersama. Tanpa langkah tegas, kerusakan alam berpotensi menjadi ancaman serius bagi kehidupan di masa mendatang.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Zein Zahiratul Fauziyyah)