Jakarta: Istilah "marriage is scary" belakangan semakin sering muncul di media sosial, khususnya TikTok. Lewat berbagai unggahan, generasi muda membagikan keresahan, candaan, hingga ketakutan mereka terhadap pernikahan.
Meski kerap dibalut humor, tren ini sebenarnya mencerminkan perubahan cara pandang Generasi Z (Gen Z) terhadap hubungan jangka panjang dan kehidupan berkeluarga.
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung menjadikan pernikahan sebagai target utama dalam kehidupan dewasa, banyak Gen Z kini memilih untuk menundanya. Bahkan, sebagian mengaku belum memiliki keinginan untuk menikah dalam waktu dekat. Fenomena ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi hingga kesiapan emosional.
Faktor yang Mendorong Gen Z Menunda Pernikahan
Berdasarkan data
The State of Today's Family, terdapat beberapa faktor utama yang memengaruhi keputusan
Gen Z untuk menunda pernikahan.
-
Kecemasan terhadap Kondisi Ekonomi
Salah satu alasan terbesar adalah ketidakpastian ekonomi. Kenaikan harga rumah, biaya hidup yang semakin tinggi, hingga mahalnya biaya pendidikan membuat banyak anak muda merasa belum siap secara finansial untuk membangun rumah tangga.
Bagi sebagian
Gen Z, pernikahan bukan hanya soal hubungan dua individu, tetapi juga tentang kesiapan menghadapi berbagai tanggung jawab ekonomi di masa depan. Karena itu, banyak yang memilih menunda pernikahan hingga memiliki kondisi keuangan yang lebih stabil.
Selain itu, usia menikah pada generasi saat ini juga cenderung lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Hal ini menunjukkan adanya perubahan prioritas, di mana pendidikan, karier, dan kestabilan finansial sering kali menjadi fokus utama sebelum memutuskan menikah.
-
Ketakutan dan Kecemasan Emosional
Selain faktor ekonomi, kesiapan emosional juga menjadi pertimbangan penting.
Pernikahan dipandang sebagai komitmen besar yang membutuhkan kematangan diri, kemampuan berkomunikasi, serta kesiapan menghadapi berbagai tantangan bersama pasangan. Kompleksitas inilah yang membuat banyak
Gen Z lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk menikah.
Data The State of Today's Family juga menunjukkan bahwa generasi muda saat ini memiliki tingkat kecemasan dan tekanan emosional yang cukup tinggi. Karena itu, banyak yang memilih fokus memperbaiki kesehatan mental dan membangun kestabilan emosional sebelum memasuki jenjang pernikahan.
Perspektif Psikolog
Psikolog yang berfokus pada relasi dan pasangan, Lisyanti, M.Psi., melalui akun Instagram Sundarindah Psychological Corner, menjelaskan bahwa sebagian Gen Z mungkin memandang pernikahan sebagai sesuatu yang menakutkan karena mereka melihat secara langsung berbagai dinamika hubungan yang tidak selalu berjalan mulus.
Pengalaman menyaksikan konflik rumah tangga dalam keluarga, kerabat, atau lingkungan sekitar dapat membentuk persepsi bahwa pernikahan merupakan sesuatu yang rumit dan berisiko menimbulkan luka emosional.
Meski demikian, Lisyanti menegaskan bahwa rasa takut terhadap pernikahan tidak selalu berarti seseorang menolak komitmen. Sebaliknya, ketakutan tersebut dapat menjadi bentuk kepedulian terhadap masa depan dan keinginan untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik.
Menurutnya, sebelum menikah seseorang perlu memahami dirinya sendiri, mengenali pola hubungan yang dijalani, memperbaiki aspek-aspek yang masih perlu dikembangkan, serta mencari pasangan yang memiliki komitmen untuk tumbuh bersama dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, tren "marriage is scary" bukan semata-mata menunjukkan bahwa
Gen Z takut menikah. Fenomena ini juga mencerminkan perubahan cara pandang generasi muda yang lebih kritis dalam mempersiapkan masa depan.
Alih-alih terburu-buru, banyak dari mereka memilih memastikan kesiapan finansial, emosional, dan mental terlebih dahulu agar dapat membangun hubungan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
(Odetta Aisha Amrullah)