Makassar: Sebanyak 393 jemaah calon haji (JCH) kloter 17 embarkasi Makassar kembali memasuki Asrama Haji sebelum diberangkatkan ke Madinah, Arab Saudi. Dari total tersebut, dua jemaah asal Kabupaten Sinjai menjadi perhatian khusus karena merupakan penyandang disabilitas.
Kedua jemaah tersebut adalah Saifuddin Abdul Muin Saideng yang merupakan tunanetra, serta Kasma Muskin Nusi, penyandang tunadaksa yang telah menjalani amputasi satu kaki. Keduanya dipastikan akan mendapatkan pendampingan khusus selama menjalankan rangkaian ibadah haji.
Kepala Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Sinjai, Kamriati Anis, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan sistem pendampingan menyeluruh bagi jemaah difabel. Pendampingan tersebut mencakup tiga aspek utama, yakni obat, alat, dan orang.
“Jadi dia tiga pendampingan, pendampingan obat, pendampingan alat, dan pendampingan orang. Alhamdulillah anaknya yang mendampingi,” ujar Kamriati.
Ia menuturkan, Kasma sebelumnya sempat tertunda keberangkatannya akibat
kondisi kesehatan yang memburuk. Pada 2024, Kasma gagal berangkat karena diabetes yang dideritanya. Kondisi tersebut bahkan semakin parah hingga mengharuskannya menjalani amputasi.
“Karena kena diabetes tinggi, akhirnya tertunda. Tahun berikutnya lebih parah lagi karena sudah harus amputasi. Tapi Alhamdulillah, setelah pemeriksaan kesehatan rutin, tahun 2026 ini bisa berangkat,” jelas Kamriati.
Sementara itu, untuk jemaah tunanetra, pendampingan lebih difokuskan pada dukungan orang atau pendamping selama menjalankan ibadah. Meski tidak memerlukan alat bantu khusus, petugas tetap mengantisipasi kebutuhan tambahan saat pelaksanaan
ibadah tertentu seperti wukuf, sa’i, dan umrah.
“Kalau yang tunanetra ini lebih ke pendampingan orang. Tapi tetap kami titipkan agar saat wukuf, sa’i, dan umrah bisa menggunakan bantuan, termasuk kursi roda bila diperlukan,” tambah Kamriati.
Selain pendamping keluarga, petugas haji dan ketua kloter juga diminta memberikan perhatian dan prioritas lebih kepada kedua jemaah tersebut. Hal ini dilakukan agar mereka dapat menjalankan ibadah dengan aman dan lancar tanpa hambatan berarti.
Kamriati juga menegaskan bahwa secara umum kondisi kesehatan kedua
jemaah dalam keadaan stabil dan layak untuk berangkat. Ia pun mengapresiasi semangat keduanya yang tetap tinggi meski memiliki keterbatasan fisik.
“Tidak pernah mereka merasa minder. Justru lebih semangat. Saya selalu sampaikan, jangan berkecil hati dengan kondisi yang ada. Tetap semangat, karena di sana kita harus lebih kuat,” tuturnya.
Keberangkatan dua
jemaah difabel ini menjadi potret semangat dan keteguhan dalam menjalankan ibadah. Dengan dukungan keluarga serta pendampingan dari petugas, diharapkan keduanya dapat menunaikan seluruh rangkaian ibadah haji dengan baik.