Sragen: Seorang petani selada di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, berhasil meraup keuntungan hingga Rp20 juta setiap bulannya melalui budi daya selada hidroponik. Hasil panen dari perkebunan ini kini rutin memasok kebutuhan sejumlah pasar, rumah makan, hingga diserap oleh Satuan Pelayanan Pemakanan Bergizi (SPPG) untuk program makan bergizi gratis.
Adalah Hediono (32), berbagi kisahnya menjadi petani selada yang meraup cuan besar. Awalnya, dia memanfaatkan lahan kosong seluas 800 meter persegi di Dukuh Sekul, Desa Majenang, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen.
Ia menyulap lahan yang tidak produktif tersebut menjadi area pertanian modern yang mampu menghasilkan sebanyak 40 kilogram selada setiap harinya.
Hediono menanam empat varietas selada di kebon itu. Terdiri dari selada hijau, selada merah, baby romaine, dan lollo rossa, serta satu jenis sawi pakcoy. Dalam mendistribusikan hasil panennya, Hediono memilih target pasar yang cenderung sesuai dengan pola tanamnya.
"Target pasar di sini lebih cenderung ke resto, kafe, dan katering karena kami mencari yang permintaannya rutin dan terjadwal, jadi bisa disesuaikan dengan pola tanam kami," ujar Hediono, dikutip dari
Newsline Metro TV, Sabtu, 17 Januari 2026.
Harga jual selada hijau mencapai Rp25 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram, sedangkan selada merah dijual lebih mahal, yakni Rp35 ribu sampai Rp40 ribu per kilogram. Berkat manajemen pasar yang konsisten, Hediono mampu memperoleh omzet rata-rata Rp20 juta per bulan, bahkan meningkat hingga Rp30 juta pada masa libur panjang.
Keberhasilan ini tidak diraih secara instan. Usaha pertanian hidroponik ini telah dirintis sejak tahun 2017 dengan modal awal hanya sebesar Rp800 ribu. Kini, nilai investasi dari usaha produktif tersebut telah mencapai ratusan juta rupiah.
(Aulia Rahmani Hanifa)