Menjaga kelestarian alam dan mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak lagi sekadar teori di atas kertas. Di SD Negeri 68 Pekanbaru, mitigasi bencana lingkungan ini mulai ditanamkan secara proaktif sejak dini melalui program edukasi bertajuk Green Policing.
Kegiatan belajar mengajar tak hanya dilakukan di dalam ruangan. Ratusan siswa diajak berinteraksi langsung dengan alam melalui berbagai aktivitas interaktif, mulai dari menanam pohon, menggambar, membaca puisi, hingga mengikuti simulasi penanganan awal musibah kebakaran.
Bagi para siswa, menjaga kelestarian lingkungan kini menjadi sebuah kewajiban yang harus diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.
Sinergi Program Green School dan Kepolisian
Langkah mitigasi ini turut didukung oleh pihak sekolah yang secara konsisten menjalankan program Green School, yakni dengan membiasakan para murid menjaga kebersihan dan merawat tanaman di area sekolah.
"Dengan adanya kegiatan ini, insyaallah anak-anak kita nanti akan dibimbing oleh guru untuk melestarikan lingkungan, menjaga lingkungan. Ada kegiatan kebersihan, keindahan, dan keamanan lingkungan sekitar," jelas Kepala SDN 68 Pekanbaru, Nurmailis.
Kapolresta Pekanbaru, Kombes Pol Muharman Arta, menjelaskan bahwa program Green Policing yang digagas oleh Kapolda Riau ini sudah berjalan berkesinambungan selama kurang lebih satu setengah tahun. Sasaran edukasi juga diperluas, tidak hanya untuk tingkat Sekolah Dasar, tetapi menyentuh Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
"Bhabinkamtibmas kami dari Sat Binmas masuk ke PAUD-PAUD membuat kegiatan yang menarik supaya anak-anak bisa ditanamkan sejak dini kepedulian terhadap lingkungan," papar Kombes Pol Muharman.
Melalui sinergi pendidikan dan Green Policing ini, pesan pencegahan Karhutla diharapkan dapat ditanamkan jauh sebelum api muncul. Kepedulian yang dipupuk lewat tangan-tangan kecil saat menanam pohon diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan permanen, baik di lingkungan rumah maupun masyarakat luas, guna menjawab ancaman Karhutla yang masih membayangi wilayah Riau.