Kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menorehkan sejarah baru. Sepanjang 2025, laba bersih gabungan BUMN melonjak tajam hingga 75,3 persen menjadi Rp326 triliun dibandingkan tahun sebelumnya.
Lonjakan fantastis ini merupakan buah nyata dari langkah pembenahan dan transformasi tata kelola pascahadirnya Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) pada akhir Februari 2025.
Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI, 14 Agustus 2026, menegaskan bahwa pencapaian tersebut adalah murni hasil kerja keras, bukan rekayasa akuntansi.
"Karena perbaikan-perbaikan yang kita kerjakan, tahun 2025 keuntungan BUMN mencapai Rp326 triliun. Ini adalah keuntungan tanpa permainan angka. Kita tidak mau toleransi dengan laporan palsu," tegas Presiden Prabowo.
Rapor Biru BUMN dan Kebangkitan Krakatau Steel
Sejumlah perusahaan pelat merah mencatatkan pertumbuhan laba yang signifikan. PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) tumbuh kuat hingga 169 persen, PT Pertamina naik 79,6 persen, PT Pegadaian naik 87,2 persen, dan PT Bank Tabungan Negara (BTN) tumbuh 43,9 persen.
Kinerja cemerlang Pegadaian salah satunya ditopang oleh tren investasi melalui Bank Emas Indonesia. Bersama Bank Syariah Indonesia, BUMN ini kini mengelola 153 ton emas dengan valuasi sekitar Rp360 triliun.
Pencapaian paling disorot adalah PT Krakatau Steel (Tbk) yang sukses berbalik arah dari posisi merugi menjadi untung. Keberhasilan restrukturisasi ini mendapat apresiasi dari Wakil Ketua Komisi VI DPR, Andre Rosiade.
"
Roadmap yang dilakukan Danantara sudah
on the track. Krakatau Steel itu sebelum ada Danantara masih merugi, tidak ada yang mau memberi utang. Lalu dilakukan perbaikan kinerja jangka pendek, model bisnis dirapikan, dan sekarang sudah lumayan untung," puji Andre.
Bukan Sekadar Mesin Pencetak Uang
Meski laba meroket,
Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, mengingatkan bahwa BUMN bukanlah semata mesin pencetak uang. Kehadirannya harus berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat, khususnya memberikan napas bagi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Rosan menyoroti pentingnya keberpihakan perbankan pelat merah (Himbara) terhadap akses permodalan bagi rakyat kecil. "Usaha kecil menengah ini sering kali mendapat suku bunga lebih tinggi dari korporasi. Ke depan, bunganya harus di level yang sama, bahkan harus lebih rendah. Ini yang harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat," tegas Rosan.
Untuk menjaga keberlanjutan tren positif ini, Pengamat BUMN dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Toto Pranoto, menyarankan agar Danantara mengadopsi model Sovereign Wealth Fund (SWF) kelas dunia seperti Temasek di Singapura atau Khazanah di Malaysia.
"Resep agar Danantara bisa maju lebih cepat adalah manajemen harus bekerja secara independen, intervensi negara relatif minim, dan memiliki kemampuan merekrut talenta-talenta terbaik dari seluruh dunia," kata Toto.