Polri Telusuri Dugaan Keterlibatan Elite Partai dalam Pusaran Skandal Penyadapan Presiden

7 November 2026 19:39

Skandal penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto kian melebar seiring mencuatnya spekulasi mengenai keterlibatan elite partai politik. Menanggapi isu yang beredar, Polri menyatakan akan menelusuri arah spekulasi tersebut untuk memastikan ada tidaknya fakta hukum atau sekadar rumor belaka.

Kabar mengenai keterlibatan pimpinan partai sempat memanas setelah tersebarnya poster digital terkait rencana Munaslub Partai Golkar. Namun, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menanggapi santai spekulasi tersebut dan menyatakan bahwa isu yang beredar belum tentu benar.

Secara terpisah, Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia membantah keras isi poster tersebut dan menegaskan tidak tahu-menahu perihal isu yang disebarkan. Doli menilai ada pihak tertentu yang berupaya memanfaatkan situasi guna mendulang keuntungan politik.

Sejauh ini, Mabes Polri telah menetapkan empat orang tersangka dalam kasus penyadapan ilegal tersebut, termasuk mantan Kapolri Jenderal Purnawirawan Listyo Sigit Prabowo. 

Kepolisian sempat menyatakan tindakan itu merupakan inisiatif pribadi, bukan institusi. Namun, Juru Bicara Partai Gerindra Wihadi Wiyanto menilai ada kelompok tertentu yang bergerak di balik para oknum tersebut.

"Polisi melakukan press conference mengatakan bahwa ini bukan institusi, tetapi adalah pribadi. Nah pribadi-pribadi inilah tentunya, dalam pribadi tentunya ada kelompok. Nah kelompok-kelompok inilah yang mungkin dari motif kelompok-kelompok ini apa, karena ini kan sangat membahayakan kelangsungan daripada pemerintahan Pak Prabowo," ujar Wihadi dalam tayangan Primetime News Metro TV, Sabtu, 7 November 2026.

Kecurigaan senada disampaikan oleh politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Jazilul Fawaid. Jazilul meyakini operasi penyadapan terhadap presiden melibatkan aktor besar dengan motif politik yang kental.

"Karena apa? Karena ini dilakukan oleh rombongan. Bukan hanya satu dua orang. Mulai dari bintang empat, bintang tiga, bintang dua, katanya begitu kan? Bintang-bintang yang lain. Maka wajar saja kalau saya misal berpikir, ini otaknya juga gede. Pasti punya bintang nih. Karena apa? Setuju atau tidak setuju dan orang semua sudah mengatakan, ini motifnya politik. Udah, udah pasti," tegas Jazilul.

Dari kacamata pengamat, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, menilai terbongkarnya kasus ini menjadi tamparan keras yang memperlihatkan rapuhnya soliditas lingkaran kekuasaan.

"Ini terlihat ada banyaknya yang direkrut ke dalam pemerintahan Pak Prabowo, skuad kabinet menteri maupun wamennya ratusan, tetapi ibarat koalisi maksimal, hasilnya minimal. Bahkan yang melakukan proses ya, penyadapan itu orang terdekat beliau sendiri gitu lho. Ini kan, saya setuju tadi, ini memalukan sebenarnya. Membuka aib bahwa seolah-olah apisan terdalam dari orang nomor satu di Republik ini itu begitu mudah ditembus. Dan ironisnya yang menembus anak buahnya sendiri gitu lho," kata Burhanuddin.

Agar polemik tidak berkembang menjadi spekulasi liar di ruang publik, aparat kepolisian kini didesak untuk membongkar tuntas motif di balik penyadapan tersebut, menyeret dalang yang memerintahkan aksi, serta melacak aliran data dari rekaman ilegal tersebut.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X