Makassar: Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengajak ribuan pilar sosial di Sulawesi Selatan terlibat dalam pemutakhiran data penerima bantuan sosial. Mereka didorong menjadi Agen Perlindungan Sosial atau Agen Perlinsos agar masyarakat yang berhak menerima bantuan dapat tercatat dan diusulkan dalam sistem.
Gus Ipul bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengumpulkan ribuan pilar sosial se-Sulawesi Selatan di Asrama Haji Makassar, Selasa sore. Mereka terdiri dari pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), operator data desa, Taruna Siaga Bencana (Tagana), Karang Taruna, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), hingga pelopor perdamaian.
Dalam kegiatan Gerakan Nasional Peduli Tetangga untuk Perlindungan Sosial tersebut, Gus Ipul menyebut lebih dari seribu pilar sosial hadir untuk memperkuat kerja sama dalam menjalankan program perlindungan sosial.
“Ya alhamdulillah kita ketemu dengan pilar-pilar sosial, mulai dari pendamping PKH, TKSK, Tagana, PSM, Karang Taruna, teman-teman pelopor perdamaian,” ujar Gus Ipul.
Menurutnya, salah satu tugas Kementerian Sosial adalah membantu pemutakhiran data penerima bantuan sosial. Pemutakhiran tersebut dilakukan bersama Badan Pusat Statistik (BPS), kementerian dan lembaga terkait, serta pemerintah daerah.
“Dengan pemutakhiran yang dilakukan oleh banyak pihak itu, diharapkan data kita makin akurat. Kalau datanya akurat, maka sasarannya makin tepat, bansos diterima oleh mereka yang berhak,” katanya.
Gus Ipul mengatakan, dalam dua tahun terakhir terdapat lebih dari empat juta keluarga penerima manfaat baru sebagai hasil pemutakhiran data. Keluarga tersebut sebelumnya belum pernah menerima bantuan sosial.
“Lebih dari 4 juta sudah keluarga penerima manfaat baru sebagai hasil daripada pemutakhiran. Di mana 4 juta lebih itu belum pernah menerima bansos sebelumnya, sekarang menerima bansos,” ucapnya.
Untuk memperkuat proses tersebut, Kemensos mengajak masyarakat ikut terlibat melalui Agen Perlinsos. Agen ini berperan membantu menemukan masyarakat yang dinilai layak menerima bantuan sosial agar dapat tercatat dan diusulkan melalui sistem.
Di Sulawesi Selatan, Kemensos juga mencatat sebanyak 25.214 keluarga penerima manfaat terindikasi terkait aktivitas judi online. Temuan tersebut menjadi salah satu alasan perlunya perbaikan dan pemutakhiran data penerima bantuan sosial.
Selain itu, Kemensos menemukan kasus identitas penerima bansos yang diduga dimanfaatkan pihak lain untuk kepentingan di luar tujuan bantuan. Masyarakat pun dapat melaporkan atau mengoreksi data, termasuk jika terdapat kesalahan pengelompokan desil. Usulan perbaikan data dapat disampaikan melalui RT dan RW, pemerintah desa, operator data desa, maupun secara langsung oleh masyarakat. Data yang diusulkan nantinya tetap melalui proses verifikasi sistem dan validasi BPS.
Gus Ipul menegaskan, Agen Perlinsos merupakan relawan yang tidak mendapatkan upah, gaji, maupun honor. Keterlibatan masyarakat diharapkan dapat membantu pemerintah memastikan warga yang berhak tidak terlewat dari perlindungan sosial.
Di sisi lain, Kemensos juga tengah mendorong digitalisasi bansos. Gus Ipul mengatakan sistem tersebut nantinya menggunakan biometrik wajah untuk memastikan penerima bantuan sesuai dengan data yang tercatat.
“Dengan digitalisasi bansos ini diharapkan sasaran kita akan lebih tepat, karena di samping menggunakan mekanisme digital, di dalamnya ada biometrik, wajah setiap penerima manfaat sesuai dengan data yang ada,” jelasnya.
Menurut Gus Ipul, penggunaan biometrik ditujukan untuk memastikan bantuan diterima oleh orang yang sesuai dengan identitas penerima. Dengan demikian, kesalahan penerimaan akibat kesamaan nama dapat diminimalkan.
Melalui Gerakan Nasional Peduli Tetangga, Kemensos mendorong keterlibatan pilar sosial dan masyarakat dalam memperbaiki data sekaligus memperluas akses perlindungan sosial. Kegiatan di Makassar juga diisi dengan pemutaran video edukasi Agen Perlinsos serta penampilan siswa Sekolah Rakyat.