Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kian meluas. Di tengah upaya keras untuk memadamkan kobaran api, tim gabungan di lapangan harus berhadapan dengan kendala minimnya sumber air di lokasi kejadian.
Jurnalis Metro TV, Tantawi Jauhari melaporkan, proses pemadaman yang dilakukan tanpa henti dari pagi hingga malam hari ini menguras tenaga ekstra, terutama karena petugas harus berjibaku menjinakkan api di kawasan lahan gambut. Karakteristik api pada lahan gambut yang menjalar tersembunyi di bawah permukaan tanah membuat titik yang sebelumnya terlihat sudah padam, berpotensi besar memicu api kembali menyala sewaktu-waktu.
Meluasnya area kebakaran ini berdampak langsung pada penurunan drastis kualitas udara di wilayah tersebut. Pada pagi hari,
kabut asap yang cukup pekat menyelimuti Palangka Raya, membatasi jarak pandang sekaligus mengganggu aktivitas harian warga.
Merespons kondisi udara yang tidak sehat ini, Pemkot Palangka Raya mengambil langkah antisipatif dengan mengundurkan
jadwal masuk siswa sekolah guna menghindarkan anak-anak dari paparan langsung asap pekat di pagi hari. Memasuki siang hari, ketebalan kabut asap ini biasanya baru berangsur menipis akibat terbawa tiupan angin.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat hingga 5 Agustus 2026, telah terjadi 156 insiden kebakaran yang menghanguskan setidaknya 162,49 hektare lahan di kota tersebut. Situasi serupa juga tergambar di tingkat provinsi melalui pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Pada 4 Agustus 2026, BMKG mendeteksi keberadaan 256 titik panas yang tersebar di wilayah Kalimantan Tengah. Konsentrasi titik panas tertinggi berada di Kabupaten Kotawaringin Timur dengan 62 hotspot, disusul Pulang Pisau sebanyak 57 hotspot, dan Sukamara dengan 33 hotspot.
Secara kumulatif sejak 1 Januari hingga awal Agustus 2026, Kalimantan Tengah telah dikepung oleh 4.883 titik panas yang berasal dari 933 kejadian kebakaran, mengakibatkan total 1.760,74 hektare lahan di provinsi tersebut hangus terbakar.