5 Tragedi Kapal Terbesar dalam Sejarah Indonesia

24 September 2026 13:51

Jakarta: Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki sejarah panjang dalam penggunaan transportasi laut. Namun, di balik perannya sebagai penghubung antarpulau, dunia maritim Indonesia juga menyimpan sejumlah tragedi besar yang menelan ratusan korban jiwa.

Cuaca buruk, gelombang tinggi, kelebihan muatan, hingga faktor manusia tercatat dalam berbagai penelitian sebagai sejumlah persoalan yang berkaitan dengan kecelakaan pelayaran. Berikut lima tragedi maritim besar yang menjadi bagian dari catatan sejarah pelayaran Indonesia.
 

 

Deretan Tragedi Meritim Terbesar dalam Sejarah Pelayaran Indonesia

Berdasarkan catatan jumlah korban meninggal dunia dan hilang, sejumlah kecelakaan kapal di Indonesia tercatat sebagai tragedi maritim dengan jumlah korban yang besar. Berikut lima di antaranya yang memiliki jumlah korban meninggal dan hilang paling banyak dalam catatan sejarah pelayaran Indonesia.

1. KMP Tampomas II (1981)

KMP Tampomas II tenggelam di Perairan Masalembo pada 27 Januari 1981. Kapal penumpang tersebut sedang dalam perjalanan dari Jakarta menuju Sulawesi ketika mengalami kebakaran hingga akhirnya karam.

Dalam Jurnal Sainttek Maritim mencatat bahwa KMP Tampomas II terbakar di tengah perjalanan dan kemudian tenggelam di perairan tersebut. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa kawasan Masalembo dikenal memiliki kondisi cuaca yang dapat memburuk, dengan ombak tinggi dan arus yang kuat.

Tragedi Tampomas II menewaskan ratusan orang dan menjadi salah satu kecelakaan kapal paling besar dalam sejarah pelayaran Indonesia. Penelitian mengenai wilayah Masalembo tersebut juga mencatat bahwa peristiwa Tampomas II menjadi salah satu tragedi yang membuat kawasan tersebut banyak mendapat perhatian dalam kajian keselamatan pelayaran.

2. KM Senopati Nusantara (2006)

KM Senopati Nusantara tenggelam pada akhir Desember 2006 saat berlayar dari Kumai, Kalimantan Tengah, menuju Tanjung Emas, Semarang. Kapal tersebut kemudian dinyatakan hilang setelah menghadapi kondisi cuaca buruk di perairan utara Jawa.

Mengutip jurnal Widyariset BRIN berjudul “Nakhoda KMP Senopati Nusantara Ditinjau dari Segi Hukum”, disebutkan bahwa kapal membawa sekitar 545 penumpang ketika kecelakaan terjadi. Penelitian tersebut menganalisis kecelakaan dari aspek hukum dan menyebut faktor kelalaian manusia sebagai salah satu faktor dalam musibah tersebut.

Sementara itu, dalam Jurnal Sainttek Maritim mencatat data yang lebih rinci, yakni sebanyak 628 orang berada di kapal, terdiri dari 542 penumpang, 57 anak buah kapal, dan 29 sopir truk atau kendaraan. Kapal juga membawa sejumlah kendaraan, termasuk tujuh truk besar, tiga kendaraan kecil, satu alat berat, dan tiga sepeda motor.
   

3. KMP Gurita (1996)

KMP Gurita tenggelam pada 19 Januari 1996 di perairan sekitar Sabang, Aceh. Kapal penyeberangan tersebut melayani rute Malahayati-Balohan dan menjadi salah satu kecelakaan kapal dengan jumlah korban besar dalam sejarah pelayaran Indonesia.

Salah satu kajian mengenai keselamatan kapal penyeberangan mencatat KMP Gurita mengalami kecelakaan akibat kelebihan muatan. Data dalam kajian tersebut menyebut sebanyak 284 penumpang dinyatakan hilang dalam peristiwa tersebut.

Tragedi KMP Gurita juga menjadi salah satu catatan penting dalam pembahasan keselamatan kapal penyeberangan di Indonesia, terutama terkait kapasitas kapal dan pengelolaan muatan.

4. KM Teratai Prima (2009)

KM Teratai Prima tenggelam pada 11 Januari 2009 di Perairan Tanjung Batu Roro, Sulawesi Selatan. Kapal tersebut berangkat dari Parepare menuju Samarinda dengan membawa penumpang dan barang.

Berdasarkan Laporan Investigasi Kecelakaan Kapal Laut KNKT, KM Teratai Prima berangkat dari Pelabuhan Cappa Ujung, Parepare, pada 10 Januari 2009 pukul 19.00 WITA dengan membawa 365 orang serta muatan campuran seberat 443 ton dan 63 meter kubik. Saat berlayar, kondisi laut kemudian berubah dan gelombang di sekitar lokasi kejadian mencapai sekitar 3 hingga 4 meter.

Dalam laporan tersebut, KNKT mencatat kapal mulai oleng akibat gelombang dan arus lokal. Dalam waktu singkat, kapal kemudian tenggelam dengan posisi buritan terlebih dahulu. Laporan investigasi KNKT juga menganalisis sejumlah faktor yang berkaitan dengan stabilitas kapal, penataan muatan, kondisi cuaca, serta proses tenggelamnya kapal.

5. KM Sinar Bangun (2018)

KM Sinar Bangun tenggelam di perairan Danau Toba, Sumatera Utara, pada 18 Juni 2018. Kapal tersebut membawa penumpang dan kendaraan sebelum mengalami kecelakaan ketika kondisi cuaca memburuk.

Mengutip Jurnal Fisika Indonesia Universitas Gadjah Mada oleh sejumlah peneliti dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat KM Sinar Bangun IV membawa sekitar 188 orang dan 70 kendaraan. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa kecelakaan berkaitan dengan kelebihan kapasitas, kondisi cuaca buruk, dan faktor manusia.

Analisis cuaca dalam penelitian tersebut menunjukkan adanya perkembangan awan konvektif di wilayah Danau Toba sebelum kejadian. Data pengamatan juga mencatat curah hujan lebih dari 30 milimeter per hari di sekitar kawasan Danau Toba.
 

Teman MTVN Lens, kelima tragedi tersebut memiliki kronologi dan faktor yang berbeda. Namun, dari berbagai penelitian tersebut terlihat bahwa kecelakaan pelayaran dapat berkaitan dengan sejumlah aspek, mulai dari kondisi cuaca dan laut, kapasitas kapal, penataan muatan, hingga faktor manusia.

Nah, berbagai tragedi maritim tersebut menjadi pengingat pentingnya keselamatan dalam pelayaran. Kelayakan kapal, kapasitas penumpang dan muatan, kesiapan menghadapi kondisi cuaca, hingga faktor manusia menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan agar kecelakaan serupa dapat dicegah di masa mendatang.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com. 

(Sofwa Najla Tsabita Sunanto)

(Zein Zahiratul Fauziyyah)


Close Ads X
Close Ads X