Jakarta: Hari Anak Nasional 2026 menghadirkan kisah inspiratif dari seorang siswa sekolah dasar asal Boyolali, Jawa Tengah.
Di usia 12 tahun, Ibrahim berhasil mendapat penghargaan dari lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA, setelah melaporkan temuan celah keamanan (security vulnerability) pada sistem milik lembaga tersebut. Prestasi Ibrahim menjadi bukti bahwa pemanfaatan teknologi secara positif mampu membuka peluang bagi anak-anak Indonesia untuk berprestasi di tingkat internasional.
Ibrahim dan sang ayah, Aminuddin, menceritakan perjalanan panjang di balik pencapaian tersebut.
Aminuddin menjelaskan, awalnya Ibrahim bukanlah anak yang langsung tertarik pada dunia keamanan siber. Saat duduk di bangku kelas 4 SD, Ibrahim justru gemar bermain gim di ponsel. Melihat kebiasaan itu, Aminuddin memilih untuk tidak melarang, melainkan mengarahkan minat sang anak ke aktivitas yang lebih produktif.
"Daripada bermain gim, saya tantang dia, kenapa tidak belajar membuat game sendiri. Dari situ Ibrahim mulai belajar coding. Awalnya belajar logika pemrograman, lalu Python, JavaScript, HTML, CSS, hingga akhirnya tertarik belajar
cybersecurity," ujar Aminuddin saat berbincang dengan Metrotvnews.com via konferensi video.
Perjalanan Ibrahim berlanjut ketika ia mulai membagikan hasil belajarnya melalui media sosial. Dari sana, sejumlah warganet menyarankan agar ia mendalami bidang
cybersecurity.
Ibrahim kemudian mempelajari
keamanan siber secara otodidak sejak Januari 2026. Beberapa bulan kemudian, ia menemukan celah keamanan pada salah satu sistem NASA dan melaporkannya melalui mekanisme yang tersedia. Setelah menunggu sekitar dua bulan, NASA akhirnya mengirimkan surat apresiasi resmi pada 9 Juli 2026.
Sempat Tak Percaya Dapat Balasan dari NASA
Bagi Ibrahim, apresiasi tersebut menjadi pengalaman yang tidak pernah dibayangkannya. Ia mengaku sempat kehilangan rasa percaya diri karena tidak kunjung menerima balasan setelah mengirimkan laporannya.
"Rasanya tidak percaya, karena saya sudah menunggu sekitar dua bulan dan awalnya tidak yakin akan mendapat balasan dari NASA," kata Ibrahim.
Meski telah mendapatkan pengakuan internasional, Ibrahim mengaku masih ingin terus belajar. Ia bercita-cita menjadi seorang profesional di bidang
cybersecurity.
"Cita-cita saya ingin menjadi
cybersecurity professional," ujarnya.
Peran Orang Tua Dinilai Sangat Penting
Aminuddin yang sehari-hari berprofesi sebagai guru komputer di sebuah SMA menilai perkembangan teknologi tidak seharusnya dijauhi oleh anak-anak. Sebaliknya, menurut dia, orang tua perlu hadir untuk mengarahkan agar teknologi dimanfaatkan sebagai sarana belajar dan berkarya.
"Bukan melarang teknologi, tetapi mengarahkan. Kalau anak bisa membuat
game, membuat
website, atau belajar
coding, itu akan menjadi bekal untuk masa depannya," tutur Aminudin.
Ia juga menegaskan bahwa keterbatasan lokasi bukan alasan untuk tertinggal dalam perkembangan teknologi. Meski tinggal di wilayah yang berjarak sekitar dua jam dari pusat kota Boyolali, Ibrahim tetap mampu belajar secara mandiri melalui internet.
"Kami tinggal cukup jauh dari kota, tetapi kami berusaha agar anak tidak tertinggal teknologi. Saya berharap semakin banyak orang tua yang mendukung anak belajar coding ataupun
cybersecurity karena peluangnya sangat besar di masa depan," katanya.
Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.