11 September 2026 11:46
Kabut asap yang memenuhi Pulau Kalimantan dipandang sebagai bencana musiman yang kerap terjadi. Warga Kalimantan terpaksa menghirup asap setiap tahun selama musim kemarau. Terlebih, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan semakin parah setiap tahun.
Area terbakar semakin meluas setiap tahunnya, bahkan hampir mencapai kawasan permukiman penduduk. Kebakaran yang meluas ini turut dibenarkan oleh Zulkifli, Ketua Rukun Tetangga (RT) Sampit, Kalimantan Tengah (Kalteng).
"Soalnya kebakaran ini datangnya cepat sekali. Api yang membakar lahan terbawa oleh angin, sehingga kebakaran meluas. Jadinya kebakaran meluas dan terjadi dengan cepat," ujar Zulkifli, dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia pada Jumat, 11 September 2026.
Di samping itu, paparan asap turut menurunkan kualitas hidup warga. Banyak masyarakat yang mulai menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat sering terpapar asap. Namun, warga tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi masalah kesehatan tersebut.
"Iya, terpaksa mengungsi di musala dekat," ujar Linda, warga Sampit.
Kebutuhan ekonomi yang terkendala
Tidak hanya mengganggu masalah kesehatan, kabut asap akibat Karhutla yang memenuhi udara juga mengganggu perekonomian warga. Warga yang sehari-hari mengandalkan penghasilan dari aktivitas di luar rumah terpaksa bekerja meski udara dipenuhi oleh asap.
Meski khawatir terhadap dampak asap, warga tetap bertahan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Salah satunya adalah Pawid, penarik becak di Sampit, Kalbar. Ia mengaku tetap harus keluar dan menarik becak untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.