Stasiun Samarang NIS, Cikal Bakal Perkeretaapian di Indonesia-Kabar Daerah

Deny Irwanto • 16 September 2026 10:27

Jakarta: Sejarah perkeretaapian Indonesia bermula dari pembangunan jalur kereta api Samarang-Tanggung di Jawa Tengah. Jalur tersebut mulai dibangun pada 1864 dan resmi dibuka untuk umum tiga tahun kemudian.

Stasiun Samarang NIS menjadi bagian dari jalur tersebut. Stasiun yang juga dikenal sebagai Stasiun Kemijen NIS atau Samarang Goederenstation itu berada di kawasan Kemijen, Semarang Timur.

Pembangunan Dimulai dari Kemijen


Pembangunan jalur Samarang-Tanggung dilakukan oleh Nederlandsche-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dan dimulai pada 17 Juni 1864. Kemijen ditetapkan sebagai kilometer nol sekaligus titik awal pembangunan. Jalur kemudian diteruskan hingga Tanggung.

Setelah lebih dari tiga tahun pengerjaan, jalur Samarang-Tanggung dibuka untuk umum pada 10 Agustus 1867. Jalur ini menjadi bagian dari sejarah sebagai jalur kereta api pertama di Indonesia. Pada awal pengoperasiannya, jalur tersebut menggunakan lebar sepur 1.435 milimeter. Ukurannya kemudian diubah menjadi 1.067 milimeter. NIS juga sempat menerapkan jalur dengan lebar sepur ganda di lintasan tersebut.

Berperan dalam Angkutan Barang


Stasiun Samarang pada masa operasionalnya lebih banyak melayani angkutan barang dibandingkan penumpang. Posisinya yang terhubung dengan sejumlah pelabuhan di Semarang mendukung aktivitas perdagangan dan distribusi barang di kawasan tersebut. Untuk menunjang kegiatan tersebut, dibangun sejumlah fasilitas di sekitar stasiun, seperti gudang, depo kereta api, bengkel, serta perumahan bagi pejabat dan pekerja Eropa. Kawasan stasiun juga terintegrasi dengan kanal yang menjadi bagian dari sistem transportasi Semarang pada masa itu.

Bangunan Dibongkar pada 1914


Keberadaan Stasiun Samarang kemudian mengalami perubahan seiring pembangunan jaringan kereta api di Semarang. Pada 1914, sebagian besar bangunan stasiun dibongkar untuk pembangunan jalur baru yang menghubungkan Samarang dengan Semarang Tawang.

Kawasan bekas stasiun juga mengalami perubahan akibat penurunan muka tanah. Saat ini, lokasi bekas Stasiun Samarang disebut berada sekitar dua meter di bawah permukaan tanah. Sebagian bangunan yang masih tersisa dilaporkan telah amblas sekitar tiga meter. Sementara kawasan bekas stasiun kini telah berubah menjadi permukiman warga. 

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X