Jakarta: Serangan brutal kembali mengingatkan kita bahwa kekerasan bisa terjadi di ruang publik. Bahkan di tengah aktivitas sehari-hari. Serangan menggunakan cairan berbahaya terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus ini menjadi sorotan. Siapa pelakunya? bagaimana perencanaannya? Dan seberapa jauh mereka memantau korban sebelum beraksi?
Barang bukti
Dalam perkembangan terbaru, penyidik menyita sejumlah barang milik korban, termasuk baju dan helm yang dikenakan saat kejadian. Kedua barang tersebut langsung dikirim untuk diuji ke lab forensik guna mengidentifikasi senyawa kimia yang digunakan pelaku dalam
serangan penyiraman.
Saat ditemukan, kondisi baju korban sudah rusak dan sebagian materialnya meleleh akibat paparan zat kimia korosif. Nantinya hasil uji lab diharapkan bisa memastikan jenis zat yang menyebabkan luka bakar serius pada korban sekaligus menjelaskan tingkat kerusakan pada pakaiannya.
Selain itu, penyidik juga menemukan helm yang diduga milik pelaku. Helm ini akan menjalani serangkaian pemeriksaan forensik Untuk membantu mengungkap identitas pelaku. Petugas juga mengamankan satu botol berwarna ungu yang ditemukan oleh saksi di lokasi kejadian. Botol yang memiliki material cukup tebal ini diduga digunakan pelaku sebagai wadah zat kimia yang disiramkan kepada Andrie.
Pada 15 Maret 2026 tim penyidik mengirim helm yang diduga milik pelaku ke Pusat Identifikasi
Bareskrim Polri untuk memeriksa kemungkinan adanya sidik jari yang tertinggal. Pemeriksaan dilakukan guna mencari petunjuk identitas pelaku yang diduga sempat menggunakan helm tersebut saat menjalankan aksinya
Secara bersamaan, penyidik juga membawa helm yang sama Pusat Lab Forensik Polri untuk menjalani analisis lanjutan. Melalui pemeriksaan Lab Forensik Tim berupaya mengidentifikasi kemungkinan adanya jejak biologis termasuk profil DNA yang mungkin berasal dari pelaku.
Pergerakan awal terduga pelaku
Selain memeriksa barang bukti secara fisik penyidik juga menelusuri jejak pelaku melalui rekaman kamera pengawas di sekitar lokasi kejadian. Metode ini kerap digunakan dalam berbagai penyelidikan kriminal untuk merekonstruksi pergerakan pelaku sebelum dan sesudah peristiwa terjadi.
Dalam proses ini penyidik mengumpulkan dan menganalisis rekaman dari 86 titik CCTV yang tersebar di sejumlah ruas jalan dan juga bangunan-bangunan di sekitar lokasi kejadian. ari penelusurannya kemudian tim mengkaji sekitar 2.610 potongan rekaman video dengan total durasi mencapai 10.320 menit.
Setiap potongan rekaman dianalisis secara detail untuk mengidentifikasi pola pergerakan kendaraan kemudian ciri-ciri pelakunya serta kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat.
Seluruh analisis ini menjadi bagian penting dalam upaya penyidik memetakan pergerakan pelaku mulai dari sebelum kejadian, saat berlangsung, hingga setelah pelaku meninggalkan lokasi.
Berdasarkan hasil analisis rekaman yang ada di sejumlah titik, penyidik menduga para pelaku mulai mengikuti pergerakan korban sejak sebelum kejadian. Jadi para pelaku terpantau bergerak dari wilayah Jakarta Selatan menuju pusat kota. Titik kumpulnya mereka ngumpul di Gambir lalu berputar di sekitaran Jalan Medan Merdeka Raya, Jalan IR Haji Juanda, kawasan Tugu Tani, sampai ke Gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia di Jakarta Pusat, Tempat korban saat itu menghadiri sebuah kegiatan. Setelah meninggalkan kantor LBH, korban sempat mengisi bahan bakar di SPBU Cikini Raya.
Terduga pelaku menunggu korban
Di lokasi ini empat terduga pelaku diduga sudah menunggu di depan gerai KFC Cikini sebelum kembali mengikuti korban. Pergerakan korban berlanjut ke Jalan Diponegoro hingga Jalan Salemba 1, sebelum akhirnya serangan terjadi di persimpangan Jalan Talang dan Jalan Salemba 1.
Setelah melakukan aksinya, para pelaku diduga berpencar. Dua orang melarikan diri melawan arus menuju Senen Keramat Raya, Tunggu Tani Gondangdia sebelum kembali ke Jakarta Selatan. Sementara dua lainnya kabur melalui kawasan Mantraman menuju Jatinegara dan Jalan Oto Iskandar Dinata di Jakarta Timur.
Analisis rekaman CCTV ini menjadi kunci bagi penyidik untuk memetakkan pola pergerakan pelaku. Informasi-informasi ini membantu penyidik mempersepit pencarian dan mengungkap identitas pelaku yang bertanggung jawab atas aksi keji ini.
Pihak kepolisian kemudian membaca adanya upaya untuk mengaburkan proses mengejaran terhadap pelaku. Foto pelaku yang diambil dari tangkapan layar rekaman CCTV diperkuat menggunakan teknologi AI kemudian disebar di medsos yang dikhawatirkan adalah wajah pelaku yang muncul setelah dipertegas oleh AI berbeda dengan wajah asli para pelaku dan membuat mispersepsi di masyarakat.
Sumber: Redaksi Metro TV