Rupiah Tembus Level Terlemah Sepanjang Masa, BI Siapkan Langkah Intervensi

15 January 2026 16:58

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan hebat sejak awal pergantian tahun. Pada perdagangan pasar spot Selasa, 13 Januari 2026, rupiah sempat menyentuh level Rp16.878 per dolar AS, yang merupakan level terlemah sepanjang masa.

Angka depresiasi ini melampaui rekor pelemahan pada April 2025 di posisi Rp16.870, serta jauh melampaui titik terendah saat krisis moneter 1998 yang berada di level Rp16.650. Sementara itu, pada pembukaan perdagangan Kamis, 15 Januari, rupiah kembali melemah 1,06% di level Rp16.860 per dolar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Erwin G Hutapea, menjelaskan bahwa tekanan terhadap mata uang global saat ini sangat tinggi. Beberapa faktor eksternal yang memengaruhi antara lain eskalasi tensi geopolitik dan kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju.

Selain itu, ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), turut memicu gejolak di pasar valuta asing domestik, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan valas pada awal tahun.
 

Baca juga:

Krisis Mata Uang Iran 2026: Kurs ke Rupiah, Penyebab, dan Dampak Globalnya


Meski mengalami depresiasi yang dalam, Bank Indonesia mengklaim bahwa pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar di kawasan regional. Sebagai perbandingan, Won Korea telah melemah sebesar 2,46%, sementara Peso Filipina turun sebesar 1,04% akibat sentimen global yang sama.

Guna meredam fluktuasi yang berlebihan, Bank Indonesia memastikan akan terus berada di pasar untuk menjaga agar rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat. BI mengaku telah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore di kawasan Asia, Eropa dan Amerika dan juga intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan juga pembelian surat berharga SBN di pasar sekunder. 

Selain itu berlanjutnya aliran masuk modal asing terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang secara neto mencapai Rp11,11 triliun di Januari 2026 juga mendukung terkendalinya stabilitas nilai tukar rupiah.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggie Meidyana)