Es Dawet Mbah Hari, Kuliner Legendaris Pasar Beringharjo Sejak 1960

21 July 2026 17:49

Yogyakarta: Kuliner di Yogyakarta memang sangat beragam dan tidak ada habisnya. Salah satu yang legendaris adalah Dawet Mbah Hari yang telah berjualan di Pasar Beringharjo sejak tahun 1960.

Berada di sudut gang Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta, lapak Es Dawet Mbah Hari yang sangat sederhana ini sudah begitu dikenal masyarakat. Buka mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB, lapak ini tidak pernah sepi pengunjung. Pelanggannya datang dari berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga orang tua yang sudah menjadi pelanggan setia sejak puluhan tahun lalu.

Es dawet dengan cita rasa manis nan legit ini terletak tepat di los pertama sebelah utara pasar. Mbah Hari merupakan generasi pertama yang meracik dawet tersebut dan hingga kini tetap konsisten mempertahankan cita rasa aslinya.

Uniknya, nama "Mbah Hari" sebenarnya diambil dari nama suaminya, Hari Narto. Nama asli beliau adalah Ngatilah. Lahir pada tahun 1945, Mbah Hari kini telah menginjak usia 81 tahun. Meski sudah senja, beliau tetap nampak sehat, gesit, dan ramah saat melayani pelanggan. Jika dulu ia berjualan sendiri, kini ia mulai dibantu oleh cucu pertamanya.

"Isinya dawet, cincau, ada nangkanya. Lalu yang putih ini santen," ucap Mbah Hari dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Selasa 21 Juli 2026. 

Salah satu pelanggan, Aurani Kasih, mengaku mengenal Dawet Mbah Hari dari orang tuanya. Kini, ia kerap datang kembali bersama sang ibunda untuk bernostalgia mencicipi kesegarannya.

"Menurut aku dawet di sini tuh beda kayak yang lain, maksudnya manisnya itu pas. Biasanya kan kalau di tempat lain kayak ada yang kemanisan, ada yang kurang manis tapi menurut aku di sini manisnya pas," ungkapnya. 

Satu porsi es dawet ini dibanderol dengan harga Rp10.000. Menariknya, semua isiannya dibuat sendiri oleh Mbah Hari, mulai dari dawet, cendol, air gula jawa dengan campuran nangka, hingga santannya yang gurih.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X