Mengenal Strategi 'Jalan Tol' Pendidikan, 3 Jalur Menuju Generasi Emas 2045

25 June 2026 20:25

Kebijakan pendidikan kerap gagal dipahami bukan karena publik menolak perubahan, melainkan karena arah besar negara belum selalu diterjemahkan dengan jernih. Di sinilah letak pentingnya melihat sekolah negeri, sekolah rakyat, dan sekolah Garuda bukan sebagai tiga narasi yang saling bersinggungan, melainkan sebagai satu kesatuan ekosistem kebijakan.

Menggunakan analogi lajur 'jalan tol' menuju Generasi Emas 2045, sekolah negeri hadir sebagai layanan utama (universal policy), sekolah rakyat sebagai lajur afirmasi (affirmative policy) untuk memutus mata rantai kemiskinan ekstrem, dan sekolah Garuda sebagai lajur akselerasi (excellent policy) bagi talenta-talenta muda unggulan.

Melalui kolaborasi konstruktif lintas sektoral, sinergi ini menjadi instrumen strategis yang melampaui sekadar pemberian bantuan sosial. Dengan pendekatan berbasis keadilan (equity), fondasi pendidikan diperkuat secara proporsional sesuai dengan titik awal kebutuhan masyarakat yang berbeda.

Transformasi berlapis ini diharapkan mampu membentuk karakter kedisiplinan yang kokoh melalui sistem sekolah berasrama (boarding school), sekaligus memastikan perluasan akses dan perbaikan mutu demi mewujudkan sistem pendidikan nasional yang inklusif, adil, dan dipercaya publik.

Pemutus rantai kemiskinan


Tenaga Ahli Menteri Sosial Bidang Perencanaan Evaluasi Kebijakan Strategis Kementerian Sosial, Andy Kurniawan, mengatakan, data menunjukkan sekitar 64 persen keluarga miskin berpotensi kembali melahirkan generasi miskin berikutnya apabila tidak ada intervensi yang mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

"Data-data yang kita dapatkan, ada sekitar 64 persen keluarga yang berasal dari keluarga miskin, generasi berikutnya akan kembali miskin. Jadi kemiskinan itu bisa diturunkan ke generasi-generasi berikutnya," ujar Andy dalam program Newsline Metro TV, Kamis 25 Juni 2026. 

Ia menilai pendidikan menjadi jalan paling efektif untuk memutus siklus tersebut. Karena itu, Sekolah Rakyat tidak hanya memberikan akses belajar, tetapi juga dirancang untuk meningkatkan peluang sosial dan ekonomi peserta didik di masa depan.

"Sekolah Rakyat didesain untuk memutus mata rantai kemiskinan. Kalau keluarganya miskin, anaknya tidak boleh miskin. Kalau keluarganya tukang becak, anaknya tidak perlu jadi tukang becak," katanya. 

Andy menjelaskan Sekolah Rakyat menyasar anak-anak yang berada pada kelompok desil 1 dan desil 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Berbeda dengan sekolah pada umumnya, program ini tidak membuka pendaftaran, melainkan melakukan penjangkauan langsung kepada calon siswa yang membutuhkan.
Setelah diterima, seluruh kebutuhan siswa dipenuhi negara, mulai dari pendidikan formal, tempat tinggal di asrama, makanan bergizi, pemeriksaan kesehatan, hingga pembentukan karakter.

"Mulai bangun tidur sampai tidur lagi semua kelengkapannya dipenuhi oleh negara. Gizinya diatur, makan tiga kali sehari, snack dua kali, cek kesehatannya rutin," ujar Andy.

Tak hanya berfokus pada pendidikan siswa, program ini juga menyasar kondisi keluarga peserta didik. Pemerintah menyiapkan berbagai intervensi sosial, mulai dari bantuan sosial, program pemberdayaan ekonomi, perbaikan rumah tidak layak huni, hingga layanan kesehatan.

Menurut Andy, pendekatan tersebut dilakukan agar dampak Sekolah Rakyat tidak berhenti pada siswa, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga secara menyeluruh.

"Output-nya setelah lulus dari Sekolah Rakyat, anaknya pintar, terampil, berkarakter, keluarganya naik kelas," katanya.

Sementara itu, akademisi dan pengamat pendidikan dari Universitas Islam Internasional Indonesia, Alpha Amirrachman, menilai program Sekolah Rakyat merupakan bentuk kebijakan afirmatif yang lazim diterapkan di berbagai negara untuk membantu kelompok rentan memperoleh kesempatan yang setara.

Menurut Alpha, pendidikan menjadi salah satu instrumen paling penting untuk memastikan anak-anak dari keluarga miskin tidak terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang sama seperti generasi sebelumnya.

Dengan menggabungkan pendidikan formal, pembinaan karakter, serta dukungan sosial bagi keluarga, pemerintah berharap Sekolah Rakyat dapat menjadi salah satu fondasi dalam menyiapkan Generasi Emas 2045 sekaligus mengurangi angka kemiskinan antargenerasi di Indonesia.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X