Gunung Terbakar, Perlukah Pendakian Ditutup Hingga Kemarau Berakhir?

22 October 2026 08:15

Jakarta: Membahas situasi ketika kebakaran ini melanda di kawasan pegunungan, muncul pertanyaan: apakah menutup jalur pendakian sudah cukup untuk melindungi pengunjung dan juga mencegah api meluas? Atau sebenarnya kita membutuhkan kebijakan yang lebih menyeluruh dengan mempertimbangkan ada tingkat risiko di setiap gunung? 

Kebakaran melanda sejumlah gunung di Tanah Air


Kebakaran hutan dan lahan terjadi di sejumlah kawasan pegunungan di Pulau Jawa. Yang pertama adalah Gunung Lawu. Kebakaran terjadi di Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar sejak 15 Oktober 2026. Kebakaran juga terjadi di Gunung Semeru sejak 26 Agustus, sehingga jalur pendakian ditutup sejak tanggal tersebut. Lalu, juga terdeteksi kebakaran melanda di kawasan Gunung Wilis yang mencakup wilayah Nganjuk dan juga Kediri.   

Di kawasan Gunung Arjuno-Welirang juga kebakaran terjadi di kawasan Taman Hutan Raya Raden Soerjo sejak Agustus 2026. Sementara itu untuk Bromo, kebakaran dilaporkan mulai terjadi pada 10 September 2026 di Savana Pengol dan juga meluas ke arah Gunung Kursi.

Luas Kawasan yang terbakar


Untuk wilayahnya, Gunung Lawu luas kawasan yang terbakar diperkirakan mencapai 490 hektare. Angka ini berdasarkan laporan BPBD Karanganyar per 20 Oktober 2026. Sementara itu di kawasan Gunung Arjuno-Welirang, luas lahan yang terbakar mencapai 334,94 hektare. Ini berdasarkan data dari UPT Tahura Raden Soerjo per 27 Agustus 2026. Adapun di Gunung Wilis, luas kawasan yang terbakar diperkirakan mencapai 16 hectare. Ini berdasarkan laporan BNPB per 4 September 2026. Luas ini mencakup sekitar 5 hektare di wilayah Nganjuk dan 11 hektare di Kediri.   

Ketiga angka ini berasal dari waktu pelaporan yang berbeda, karena itu angka-angka ini belum bisa menggambarkan total luas kebakaran terkini di seluruh kawasan pegunungan tersebut. Jadi data ini merupakan yang terakhir yang berhasil dihimpun saat berita ini disusun.   

Mengapa kebakaran di gunung sulit dipadamkan?


Kebakaran di kawasan pegunungan ini punya tantangan tersendiri. Salah satunya adalah soal medan yang terjal dan juga akses menuju titik api yang terbatas. Kondisi ini membuat petugas membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai lokasi sekaligus membawa peralatan pemadaman. Angin juga dapat mempercepat penjalaran api, terutama ketika vegetasi di sekitarnya dalam kondisi kering. Kemudian rumput, alang-alang, semak, hingga tumpukan daun dan ranting kering juga bisa menjadi bahan bakar yang membuat api semakin mudah menyebar. Belum lagi persoalan ketersediaan air dan logistik. 

Jadi tidak semua titik kebakaran mudah dijangkau untuk mendapatkan pasokan air maupun peralatan pemadaman yang memadai. Ketika api muncul di beberapa lokasi sekaligus, petugas juga harus membagi personel untuk melakukan pemadaman. 

Faktor pemicu kebakaran


Ada sejumlah faktor juga yang kemudian ini bisa memicu kebakaran di kawasan pegunungan. Ini kami tampilkan beberapa halnya. Faktor alam maupun faktor atau juga aktivitas manusia. Kalau dari sisi alam, kemarau panjang dan minimnya hujan membuat vegetasi mengering. Kondisi ini meningkatkan kerentanan kawasan terhadap kebakaran. Angin, kemudian kelembapan yang rendah juga bisa mempercepat penjalaran api. Tidak lupa sambaran petir yang bisa menjadi sumber penyalaan alami.   

Meskipun penyebabnya harus dibuktikan pada setiap kejadian, dari sisi manusia ternyata juga ada pengaruhnya. Misalnya kebakaran bisa dipicu oleh api unggun atau kompor yang tidak dipadamkan dengan benar, puntung rokok yang dibuang sembarangan, maupun pembakaran sampah. Kelalaian dan juga tindakan yang disengaja ini juga bisa menjadi penyebab kebakaran. Namun, penting untuk dicatat, faktor-faktor ini merupakan kemungkinan penyebab secara umum. Penyebab pasti dari setiap kebakaran tetap harus merujuk pada hasil investigasi di lapangan nanti.   


Perlukah penutupan jalur pendakian?


Nah, penutupan jalur pendakian ini bisa menjadi salah satu langkah untuk mengurangi risiko ketika kebakaran terjadi atau misalnya dalam kondisi kawasannya dinilai rawan. Langkah ini penting untuk melindungi pengunjung agar tidak terjebak ketika api meluas atau juga jalur evakuasinya terputus. 

Penutupan ini juga bisa memberikan ruang bagi petugas untuk melakukan pemadaman, patroli, dan penanganan di kawasan terdampak tanpa tambahan aktivitas pengunjung. Selain itu, pembatasan aktivitas manusia juga bisa mengurangi peluang munculnya sumber api baru dari kegiatan yang tidak terkendali. Kalau dari sisi lingkungannya, pembatasan kunjungan ini juga bisa membantu mengurangi gangguan terhadap kawasan yang sedang terbakar atau rentan mengalami kerusakan lanjutan.   

Dasar kebijakan yang bisa digunakan oleh otoritas setempat untuk kemudian wilayah tersebut ditutup, karena kebutuhan tadi. Namun, apakah semua gunung harus ditutup selama musim kemarau? Keputusan ini perlu dipertimbangkan dengan kondisi setiap kawasan, mulai dari tingkat kerawanan kebakaran, kondisi cuaca dan vegetasinya bagaimana, sampai kemudian kesiapan petugas serta jalur evakuasinya.   

Sebenarnya penutupan tidak harus selalu berlaku seragam. Yang perlu dipastikan adalah bahwa keputusan-keputusan ini nanti juga disesuaikan dengan kondisi yang ada. Jadi, sekali lagi ini kita perlu kerja sama semua pihak. Adanya kemudian pembatasan manusia atau pembatasan aktivitas manusia ini juga mungkin saja diperlukan untuk mengurangi peluang munculnya sumber api baru, dan ini juga membantu untuk bagaimana nanti pemerintah daerah kemudian melakukan pemadaman. Begitu. Jadi ini bisa ditutup, atau juga misalnya tutup secara parsial saja.   

Sumber: Redaksi Metro TV

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X