Jakarta: Ular umumnya dikenal sebagai reptil yang bergerak dengan merayap menggunakan tubuhnya. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya berlaku bagi ular dari genus Chrysopelea. Kelompok ular yang dikenal sebagai flying snake atau ular terbang ini memiliki kemampuan unik untuk meluncur di udara dari atas pepohonan.
Chrysopelea merupakan genus yang terdiri atas lima spesies dari famili Colubridae. Ular ini memiliki tubuh ramping dan bersifat arboreal, sehingga banyak menghabiskan waktu di pepohonan. Persebarannya mencakup wilayah Asia Selatan hingga Asia Tenggara, termasuk kepulauan Indonesia.
Meski disebut ular terbang, Chrysopelea tidak benar-benar terbang seperti burung. Hewan ini melakukan gliding atau meluncur dengan memanfaatkan bentuk tubuhnya. Kemampuan tersebut memungkinkan ular berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya tanpa harus turun ke permukaan tanah.
Mengubah Bentuk Tubuh Saat Meluncur
Kemampuan meluncur
Chrysopelea berkaitan dengan bentuk tubuhnya. Saat berada di atas pohon dan akan berpindah, ular dapat meluncurkan tubuhnya ke udara. Pada saat yang sama, tubuhnya diratakan dengan melebarkan bagian rusuk sehingga permukaan tubuh menjadi lebih cekung.
Perubahan tersebut membuat tubuh ular memiliki bentuk yang membantu menghasilkan gaya angkat ketika berada di udara. Ular kemudian melakukan gerakan bergelombang dengan tubuhnya selama meluncur.
Gerakan bergelombang ini berfungsi membantu menjaga keseimbangan sekaligus mengatur arah saat meluncur. Dengan teknik tersebut,
flying snake dapat meluncur hingga sekitar 100 meter dari atas pohon.
Terdiri atas Lima Spesies
Genus Chrysopelea terdiri atas lima spesies dengan ukuran dan persebaran yang berbeda, yaitu:
- Moluccan flying snake (Chrysopelea rhodopleuron)
Ditemukan di Indonesia, termasuk wilayah Maluku dan Sulawesi. Spesies ini merupakan salah satu jenis flying snake yang memiliki ukuran cukup besar.
- Golden flying snake (Chrysopelea ornata)
Ditemukan di India dan kawasan Asia Tenggara. Ular ini dapat tumbuh hingga sekitar 120 sentimeter dan umumnya memiliki warna hijau, kuning, merah, atau hitam, tergantung variasinya.
- Paradise tree snake (Chrysopelea paradisi)
Tersebar di Asia Tenggara hingga Indonesia. Spesies ini dapat mencapai panjang sekitar 91 sentimeter. Tubuhnya memiliki warna hijau dan hitam dengan pola berwarna oranye, merah, atau kuning di bagian punggung.
- Indian flying snake (Chrysopelea taprobanica)
Ditemukan di India dan Sri Lanka. Ukurannya dapat mencapai sekitar 90 sentimeter.
- Banded flying snake (Chrysopelea pelias)
Merupakan spesies terkecil dalam genus Chrysopelea. Ular ini dapat ditemukan di kawasan Asia Tenggara, termasuk Semenanjung Malaysia, Sumatra, Jawa, dan Kalimantan, dengan panjang maksimal sekitar 60 sentimeter.
Aktif pada Siang Hari
Flying snake merupakan ular yang aktif pada siang hari. Makanannya terdiri atas sejumlah hewan, termasuk tikus, kelelawar, burung, katak, dan kadal. Kehidupan di pepohonan sekaligus kemampuan meluncur memungkinkan ular ini berpindah di antara kanopi untuk mencari makanan dan menjelajahi habitatnya.
Nah, meski namanya
flying snake, ular dari genus
Chrysopelea sebenarnya tidak memiliki sayap dan tidak terbang seperti burung. Kemampuan meluncurnya merupakan bentuk adaptasi unik yang memungkinkan hewan ini berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya sekaligus tetap berada di lingkungan kanopi.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Titik Nurmalasari)