Ini yang Dilakukan Hewan Saat Karhutla Melanda Habitatnya-Serius Ini Hewan?

26 August 2026 12:00

Jakarta: Saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi, manusia dapat menerima peringatan dan segera mencari tempat aman. Namun, satwa liar harus mengandalkan insting serta kemampuan alaminya untuk bertahan. Di tengah kobaran api, asap, dan habitat yang terbakar, hewan menghadapi berbagai ancaman yang tidak berhenti setelah api padam.

Mengutip International Fund for Animal Welfare (IFAW), banyak hewan menggunakan penciuman dan kepekaan terhadap lingkungan untuk mendeteksi tanda-tanda awal kebakaran. Namun, tidak semua satwa memiliki cukup waktu untuk melarikan diri.
 

Apa yang Terjadi pada Hewan Saat Terjadi Karhutla?

1. Menyelamatkan Diri

Saat mencium asap atau merasakan perubahan di sekitarnya, banyak hewan akan berusaha menjauh dari sumber kebakaran. Hewan menggunakan penciuman dan kepekaan terhadap lingkungan untuk mendeteksi bahaya.

Jika masih memiliki cukup waktu, mereka akan mencari tempat yang lebih aman. Sayangnya, tidak semua hewan bisa bergerak cepat. Satwa yang memiliki anak, bergerak lambat, atau terjebak pagar dan bangunan bisa kesulitan melarikan diri.

Menurut U.S. Fish & Wildlife Service, hewan umumnya berusaha keluar dari jalur api sambil tetap berada di sekitar habitatnya jika masih menemukan tempat berlindung yang aman.

2. Hewan Kecil Bisa Bersembunyi

Tidak semua satwa memilih untuk lari. Reptil dan amfibi yang tidak mampu mengimbangi kecepatan api dapat mencari perlindungan di dalam liang, celah tanah, atau di bawah batu. Tempat tersebut bisa mengurangi paparan langsung terhadap api. Namun, jika panas dan api mencapai lokasi persembunyian, mereka tetap berisiko terluka atau mati.

3. Asap Bisa Mengganggu Pernapasan

Karhutla menghasilkan asap dalam jumlah besar. Bagi hewan, asap pekat dapat menyebabkan iritasi mata dan kesulitan bernapas. Asap juga dapat mengganggu penglihatan dan membuat hewan kesulitan menentukan arah. Akibatnya, mereka bisa lebih sulit menemukan jalan keluar dari kawasan yang terbakar.

4. Ada yang Mengalami Luka Bakar

Hewan yang terjebak di jalur api dapat mengalami luka bakar. Cedera tersebut bisa membuat mereka kesulitan bergerak, mencari makanan, atau menghindari bahaya lain.

Pada kebakaran besar dengan intensitas tinggi, luka bakar juga dapat menyebabkan kematian pada sejumlah satwa. IFAW mencatat kebakaran hutan dapat menyebabkan kematian satwa dalam jumlah besar, sementara U.S. Fish & Wildlife Service menyebut kebakaran berintensitas tinggi dalam skala luas dapat sangat merusak satwa dan ekosistem.

5. Tempat Tinggal Ikut Hilang

Api dapat menghancurkan pohon, semak, dan vegetasi yang menjadi habitat satwa. Akibatnya, hewan kehilangan tempat untuk berlindung, mencari makan, membuat sarang, hingga berkembang biak.

Bagi spesies yang bergantung pada lokasi tertentu untuk berkembang biak, kehilangan habitat dapat memengaruhi populasi dalam jangka panjang. Beberapa wilayah bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali menyediakan habitat yang sesuai bagi satwa.

6. Makanan dan Air Menjadi Terbatas

Ketika vegetasi terbakar, sumber makanan seperti buah, daun, biji, dan tumbuhan lain ikut berkurang. Sumber air juga bisa terdampak oleh material hasil pembakaran. Hewan yang selamat akhirnya harus mencari makanan dan air di tempat lain. IFAW menjelaskan bahwa satwa dapat berpindah keluar dari wilayah asalnya untuk mencari makanan dan habitat yang lebih aman. Itulah mengapa setelah kebakaran, satwa liar terkadang terlihat di lokasi yang tidak biasa.

7. Hewan Masuk ke Wilayah Manusia

Ketika habitatnya rusak dan makanan sulit ditemukan, hewan dapat berpindah ke wilayah di luar habitat alaminya. Mereka bisa muncul di perkebunan, sekitar jalan, atau bahkan permukiman.

Bukan karena sengaja mendekati manusia, tetapi karena sedang mencari tempat yang lebih aman atau sumber makanan. IFAW juga mencatat satwa liar lebih sering terlihat di lokasi yang tidak biasa setelah kebakaran karena berpindah untuk mencari sumber daya dan tempat yang aman.

8. Pindah Habitat

Berpindah dari habitat asal membuat satwa menghadapi ancaman baru. Hewan yang melintasi jalan dapat tertabrak kendaraan. Mereka juga bisa berhadapan dengan hewan peliharaan atau predator lain.

Setelah menemukan wilayah baru, mereka harus beradaptasi dan bersaing dengan satwa lain untuk mendapatkan makanan dan tempat berlindung.

9. Hewan di Air Juga Bisa Terdampak

Dampak karhutla tidak berhenti di daratan. Sungai dan danau di sekitar kawasan terbakar juga dapat terkena dampaknya. Sisa pembakaran dapat terbawa air hujan menuju perairan.

Menurut IFAW, material tumbuhan yang terbakar dapat membawa nutrisi seperti nitrogen dan fosfor ke ekosistem perairan. Kondisi tersebut dapat memicu pertumbuhan alga secara berlebihan dan menurunkan kadar oksigen di dalam air.

U.S. Fish & Wildlife Service juga menjelaskan bahwa aliran abu dan material sisa kebakaran menuju danau maupun sungai dapat mengganggu sumber air serta kehidupan satwa air, termasuk ikan dan katak.
 

Nah, karhutla ternyata tidak hanya menyisakan kerusakan pada hutan, tetapi juga memberikan dampak panjang bagi satwa yang hidup di dalamnya. Mulai dari kehilangan habitat, makanan, dan air hingga harus berpindah ke wilayah baru, hewan harus menghadapi berbagai ancaman untuk bertahan hidup setelah kebakaran.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com. 

(Titik Nurmalasari)

(Zein Zahiratul Fauziyyah)


Close Ads X
Close Ads X