Pemerintah Nepal terpaksa melakukan pemakaman darurat secara sementara bagi puluhan jenazah korban banjir yang hingga kini belum teridentifikasi. Di tengah guyuran hujan deras pada Selasa, 1 September 2026 waktu setempat, tim petugas dari rumah sakit dan kepolisian menguburkan jenazah-jenazah tersebut di area hutan dekat ibu kota Kathmandu.
Area pemakaman sementara itu dipasangi kawat berduri untuk pengamanan, sementara setiap makam dipasangi penanda bernomor warna biru.
Sebelum dimakamkan, pihak berwenang memastikan seluruh data fisik korban direkam dengan cermat. Petugas menyimpan sampel DNA, memotret ciri-ciri wajah yang khas, dan mencatat detail identifikasi lainnya. Setiap jenazah diberikan nomor referensi khusus guna membantu keluarga mengklaim dan mengidentifikasi jenazah tersebut di kemudian hari.
Kepala Distrik Kathmandu, Eshwor Poudel, menjelaskan bahwa langkah ini diambil menyusul banyaknya
korban jiwa dan kondisi jenazah yang perlu segera ditangani.
"Sebanyak 85 jenazah dibawa ke lokasi ini, dan kami telah menyelesaikan sebagian proses pemakaman. Ini bukan pemakaman penuh, melainkan menyesuaikan dengan protokol internasional dan pedoman prosedur nasional yang ditetapkan untuk jenazah yang belum teridentifikasi," jelas Poudel dikutip dari
Primetime News, Metro TV, Rabu 2 September 2026.
Angka Korban Hilang Masih Tinggi
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Nepal, jumlah korban tewas saat ini telah menyentuh angka 1.093 jiwa. Sementara itu, proses pencarian masih terus dilakukan terhadap 3.916 orang yang dilaporkan hilang, dengan 583 di antaranya merupakan Warga Negara Asing (WNA).
Dampak bencana akibat cuaca ekstrem ini juga turut dirasakan di wilayah perbatasan. Otoritas Tiongkok melaporkan adanya 16 korban kematian dan 546 orang hilang di wilayahnya, yang mencakup 261 WNA.