Tekan Risiko Penyakit Kronis, Kemenkes Luncurkan Label Nutrisi 'Nutri-Level'

21 April 2026 19:08

Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) resmi meluncurkan sistem label nutrisi 'Nutri-Level' pada produk makanan dan minuman kemasan. Kebijakan ini bertujuan untuk menekan angka penyakit kronis akibat konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) berlebih. 

Survei kesehatan menunjukkan bahwa sebanyak 47,3 persen masyarakat Indonesia telah mengonsumsi gula berlebih. Hal inilah yang menyebabkan angka penderita penyakit kronis di Indonesia cukup tinggi. 

Penyakit yang ditimbulkan dari konsumsi GGL berlebih beragam, mulai dari diabetes, hipertensi, dislipidemia, jantung, stroke, hingga komplikasi. 

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menjelaskan bahwa kehadiran label “Nutri-Level” bertujuan untuk mengedukasi masyarakat dalam memilih produk sehat tanpa harus kesulitan memahami tabel gizi yang kompleks. 

"Ini semua bisa dijaga dengan memberikan informasi nutrisi yang baik buat kepada masyarakat. Karena itulah maka 'Nutri-Level' ini dibuat untuk mendidik masyarakat supaya mengkonsumsi makanan yang lebih sehat, bergizi, dan bisa mencegah dari penyakit yang mematikan," jelas Dante, dikutip dari Metro Siang, Metro TV, Selasa, 21 April 2026. 
 

Baca Juga: Cegah Penyakit, Pemerintah Wajibkan Label Gizi pada Makanan-Minuman Siap Saji

Label ini menggunakan indikator huruf A hingga D dengan kode warna seperti lampu lalu lintas sehingga lebih mudah dibaca dan dipahami.  Berikut makna dari tiap indikatornya:
  • Level A (Hijau Tua): Kandungan GGL sangat rendah, menjadi pilihan terbaik untuk kesehatan. 
  • Level B (Hijau Muda): Kandungan GGL rendah, masih baik untuk dikonsumsi.
  • Level C (Kuning): Kandungan GGL sedang atau cukup tinggi, perlu diperhatikan konsumsinya.
  • Level D (Merah): Kandungan GGL tinggi, sebaiknya dibatasi konsumsinya.
Dante berharap kehadiran label 'Nutri-Level', dapat menurunkan angka penyakit kronis katastropik (penyakit tidak menular) di Indonesia yang sebelumnya mencapai 70–73 persen. Optimisme ini berkaca dari negara-negara Skandinavia yang berhasil menurunkan angka tersebut hingga lebih dari 90 persen melalui penerapan label serupa.

"Apa yang apa yang ditemukan di negara-negara Skandinavia tersebut? Ternyata angka kematian karena penyakit tidak menular jauh menurun lebih dari 90 persen selama 10 tahun edukasi, setelah pemberian 'Nutri-Level' di negara tersebut," ungkap Dante. 

Proses implementasi kebijakan ini akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari industri makanan dan minuman yang besar, baru kemudian menyasar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).  Masa transisi penerapannya diperkirakan sekitar dua tahun, dimulai dari sekarang.

(Alfiah Ziha Rahmatul Laili)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Gervin Nathaniel Purba)