Detik-detik Wamendikdasmen Rasakan Gempa Susulan dalam Jumpa Pers Bencana NTT

21 August 2026 10:50

Jakarta: Gempa susulan bermagnitudo 5,4 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Kamis, 20 Agustus 2026. Gempa tersebut turut dirasakan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat saat mengadakan jumpa pers daring terkait update penanganan darurat bencana untuk sektor pendidikan.

Atip sempat berhenti sejenak menyampaikan jumpa pers lantaran turut merasakan gempa susulan. Saat Atip hendak melanjutkan pembicaraannya, tiba-tiba getaran gempa terasa lagi.

Kamera yang menyorot wajah Atip pun ikut bergetar. Sementara Pelaksana  Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Kapusdatin BNPB) Berton Panjaitan, yang ikut mendampingi jumpa pers tersebut secara daring, berusaha menenangkan Atip.

"Aman pak menteri, tadi memang gempa, tapi sudah aman pak wakil menteri," kata Berton, dikutip dari program Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Jumat, 21 Agustus 2026.
 



Atip pun kemudian melanjutkan jumpa persnya secara virtual. Dalam keterangannya, Wamendikdasmen menyebut gempa NTT berdampak pada 1.378 satuan pendidikan, dengan 502 sekolah di antaranya dilaporkan rusak berat di tujuh kabupaten.

Dampak gempa terhadap sektor pendidikan tercatat cukup luas. Sebanyak 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan terdampak bencana.

Dari total 8.664 ruang kelas yang terdampak, sebanyak 5.521 ruang atau 63,7 persen mengalami kerusakan. Sebanyak 2.229 ruang kelas di antaranya mengalami kerusakan berat hingga total.

Kerusakan tidak hanya terjadi pada ruang kelas. Sejumlah fasilitas pendidikan lain turut terdampak, seperti laboratorium, perpustakaan, fasilitas sanitasi, dan rumah dinas guru.

Selain kerusakan fasilitas, sebanyak 116.324 murid mengalami gangguan pembelajaran akibat gempa dan gempa susulan yang masih berlangsung. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar mengikuti kebijakan Pemerintah Provinsi NTT. Pembelajaran dilakukan dari rumah maupun tempat pengungsian untuk menghindari penggunaan bangunan sekolah yang berpotensi roboh.

“Hindari bangunan yang berpotensi roboh dan melukai, karena gempa susulan yang masih terus berlangsung,” ujarnya.


(Gervin Nathaniel Purba)


Close Ads X
Close Ads X