Presiden Prabowo Soroti Keuntungan PT Timah Imbas Penutupan Tambang Ilegal

14 August 2026 12:24

Jakarta: Presiden Prabowo Subianto melaporkan bahwa sebanyak 1.000 tambang timah ilegal di Bangka Belitung telah ditutup dalam Sidang Tahunan MPR 2026. Penutupan itu turut berdampak pada meningkatnya keuntungan PT Timah Tbk (TINS) pada semester I-2026.

"Bayangkan, dalam enam bulan tahun 2026 ini, PT Timah telah mencapai keuntungan Rp2,7 triliun. Sembilan kali lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu," ujar Prabowo, dalam program Live Event Metro TV, Jumat, 14 Agustus 2026.

Menurutnya, dengan kenaikan untung mencapai 900 persen, maka nilai valuasi PT Timah pada Agustus 2026 naik 280 persen jika dibandingkan dengan Agustus 2025.

"Mungkin yang punya saham di PT Timah berarti kekayaannya naik 300 persen," kata Prabowo.

Melihat dampak dari penutupan tambang illegal itu, Prabowo menyentil TNI dan Polri. Prabowo menilai, seharusnya TNI dan Polri bisa mengantisipasi kemunculan tambang ilegal tersebut.
 


"Masa 1.000 tambang, pejabat TNI dan pejabat Polri enggak tahu?" kata Prabowo.

Oleh sebab itu, Prabowo meminta Panglima TNI Agus Subyanto dan Kapolri Listyo Sigit Prabowo untuk segera mengusut dan menutup keberadaan tambang ilegal yang sudah merugikan negara.

"Karena itu saya minta benar-benar, Panglima TNI dan Kapolri, usut! Tidak mungkin 1.000 tambang berjalan ilegal tanpa pejabat kepolisian dan pejabat TNI tahu," ucapnya.

Pendapatan tumbuh signifikan


Untuk diketahui, data laporan keuangan semester I-2026 menunjukkan PT Timah membukukan laba bersih Rp2,71 triliun, melonjak 804,6 persen dibandingkan Rp300,07 miliar pada semester I-2025. Capaian tersebut bahkan telah melampaui target laba bersih perseroan sepanjang 2026 yang ditetapkan sebesar Rp1,61 triliun.

Kinerja tersebut juga ditopang pertumbuhan pendapatan yang signifikan. Pendapatan PT Timah pada semester I-2026 mencapai Rp10,42 triliun, naik 146,9 persen dari Rp4,22 triliun pada periode yang sama 2025. Laba bruto meningkat menjadi Rp4,06 triliun dari Rp845,78 miliar, sedangkan laba usaha mencapai sekitar Rp3,46 triliun, dibandingkan Rp380,2 miliar pada semester I-2025.

Dari sisi neraca, total aset PT Timah hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp16,45 triliun, naik dari Rp13,64 triliun pada akhir 2025. Ekuitas meningkat menjadi Rp10,55 triliun dari Rp8,41 triliun, sementara liabilitas tercatat Rp5,90 triliun.

Perbaikan kinerja juga terlihat pada indikator profitabilitas. Margin laba bersih perseroan berada di kisaran 26 persen, dengan return on assets (ROA) sebesar 16,50 persen dan return on equity (ROE) 25,74 persen pada semester I-2026.

Penguatan tata kelola tersebut berjalan beriringan dengan peningkatan kinerja operasional. Produksi bijih timah PT Timah pada semester I 2026 mencapai 12.232 ton Sn, naik 75 persen dibandingkan 6.997 ton Sn pada semester I-2025.

Produksi logam timah juga meningkat 58 persen menjadi 10.865 metrik ton Sn. Sementara penjualan logam timah mencapai 10.984 metrik ton, melonjak 85 persen dari 5.933 metrik ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan produksi tersebut ditopang optimalisasi produktivitas dan penambahan unit operasi di wilayah tambang laut maupun darat. PT Timah mengoptimalkan Kapal Isap Produksi (KIP), Ponton Isap Produksi (PIP), serta tambang darat melalui pola kemitraan.

Perseroan juga meningkatkan kegiatan eksplorasi, mengoptimalkan fasilitas pengolahan, serta memperkuat pengawasan wilayah izin usaha pertambangan (IUP).

Kinerja tersebut turut mendapat dukungan dari penguatan harga timah global. Harga rata-rata timah di London Metal Exchange (LME) sepanjang semester I 2026 mencapai 50.319,19 dolar AS per metrik ton, meningkat 56,68 persen dibandingkan 32.115,77 dolar AS per metrik ton pada semester I 2025.

Sebelumnya, sepanjang 2025 PT Timah (Perso) Tbk yang merupakan anggota Grup MIND ID ini juga telah mencatatkan perbaikan kinerja dengan pendapatan Rp11,55 triliun, naik 6,41 persen dari Rp10,86 triliun pada 2024. Laba bersih mencapai Rp1,31 triliun, meningkat 5,14 persen dari Rp1,25 triliun pada tahun sebelumnya dan setara 119 persen dari target RKAP 2025.

 

(Gervin Nathaniel Purba)


Close Ads X
Close Ads X