Hutan Adat Imbo Putui, Benteng Terakhir Hutan Tropis Riau

27 September 2026 12:30

Imbo Putui atau Rimba Putus yang terletak di Desa Petapahan, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, menjadi salah satu benteng hutan tropis terakhir yang tersisa di Provinsi Riau. Berstatus sebagai hutan adat pertama di Riau sejak tahun 2019, kawasan seluas 251 hektare ini dijaga ketat oleh masyarakat adat dari ancaman ekspansi perkebunan kelapa sawit dan pembalakan liar.

Penduduk asli menjulukinya sebagai "hutan larangan" di mana hukum adat berlaku tegas. Bagi siapa saja yang nekat menebang pohon berdiameter di bawah 20 sentimeter, pihak adat akan menjatuhkan sanksi denda berupa 10 sak semen.

Ketegasan ini mutlak diperlukan mengingat Imbo Putui menyimpan kekayaan hayati luar biasa. Selain keberadaan pohon kayu batu endemik yang menjulang hingga lebih dari 100 meter, hutan ini juga menjadi rumah aman bagi satwa langka seperti beruang madu, owa ungko, kukang Sumatera, dan berbagai jenis burung.

Guna memastikan kelestarian hutan sekaligus menggerakkan ekonomi warga, kelompok adat setempat kini bersinergi dengan Pertamina Hulu Rokan untuk mengembangkan Imbo Putui sebagai kawasan ekowisata.
 



Ketua Pengelola Adat Imbo Putui, Said Faizan Tas'ad, menegaskan bahwa para pemuka adat terus menanamkan kesadaran kolektif kepada warga Desa Petapahan bahwa kelestarian hutan adalah tanggung jawab bersama. Ia turut mengapresiasi kucuran dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan yang berfokus pada pembangunan fasilitas ekowisata.

"Dari saat ekowisata kita mendapatkan income ekonomi, otomatis ini akan menarik masyarakat atau pemuda untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan hutannya sendiri," ungkap Said.

Dukungan pembangunan fasilitas tersebut dirancang untuk memaksimalkan daya tarik hutan tanpa merusak ekologi aslinya.

JR Officer CID Zona Rokan South, Arraafi Adna Yudistira, memaparkan bahwa pihaknya melihat potensi besar pada aktivitas trekking dan susur sungai di dalam hutan.

"Kita intervensi di sini agar manfaat dari hutan ini tidak cuma dinikmati oleh beberapa orang saja, tetapi banyak masyarakat dapat terlibat melalui peningkatan fasilitas dan pelatihan kepada kelompok-kelompok adat. Sehingga akan terbentuk suatu ekosistem agar wisatawan yang datang semakin banyak, dan pendapatan kelompok maupun hutan ini dapat bertambah," jelas Arraafi.

Kolaborasi antara pelestarian nilai adat dan dukungan sektor industri ini diharapkan mampu menyelamatkan keanekaragaman hayati Imbo Putui, sekaligus mewariskan keseimbangan ekologi yang sehat bagi generasi mendatang.

(Sofia Zakiah)


Close Ads X
Close Ads X