Purbaya 'Obrak-Abrik' Bea Cukai dan Pajak, Pegawai Bermasalah Dirumahkan

27 May 2026 17:31

Jakarta: Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa mengambil langkah ekstrem dengan "mengobrak-abrik" internal Bea Cukai dan Pajak. Termasuk merumahkan sejumlah pegawai yang dianggap bermasalah.

“Kami sudah obrak-abrik di sini, Bea Cukai dan Pajak. Bea cukai sudah diganti semua Eselon II yang kunci-kunci, diganti dengan orang-orang yang dianggap lurus dan baik,” ujar Purbaya dikutip dari tayangan Newsline Metro TV, Rabu 27 Mei 2026. 

Menurutnya, langkah tersebut mulai menunjukkan hasil signifikan. Terutama dalam penindakan penyelundupan dan pengawasan barang ilegal seperti pakaian bekas impor atau balpres.

“Penyelundupan sudah berkurang dengan signifikan. Saya tidak tahu pakaian bekas impor (balpres) sudah berkurang kayaknya,” katanya.

Purbaya juga menyebut penindakan terhadap rokok ilegal meningkat drastis. Bahkan jumlah batang rokok ilegal yang diamankan tahun ini mencapai dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Selain reformasi SDM, pemerintah juga mulai menerapkan sistem berbasis kecerdasan buatan atau AI di sejumlah pelabuhan untuk memperkuat pengawasan.

“Di pelabuhan-pelabuhan kita terapkan sistem AI dan yang kembangin mereka sendiri,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Purbaya mengaku kini membuka ruang bagi aparat penegak hukum untuk memproses pegawai yang terlibat pelanggaran. Ia menilai selama satu dekade terakhir institusi Pajak dan Bea Cukai terlalu terlindungi.

“Kalau ada kejahatan apa pun, tidak ada aparat hukum yang boleh masuk,” katanya.

 

Ultimatum Prabowo


Purbaya bahkan mengungkap adanya ultimatum langsung dari Presiden Prabowo Subianto terkait reformasi bea cukai. Jika dalam setahun tidak ada perbaikan, institusi tersebut terancam diganti dengan lembaga asing seperti Societe Generale de Surveillance (SGS).

“Ancaman presiden clear, kalau setahun tidak bisa perbaiki, Bea Cukai akan ditutup,” kata Purbaya.

Di sektor perpajakan, Purbaya juga melakukan rotasi besar terhadap pejabat eselon serta menindak pegawai yang dianggap bermasalah.

“Kalau sudah kelihatan jelek, ya saya rumahkan saja,” ujarnya.

Ia menambahkan reformasi yang dilakukan mulai berdampak terhadap penerimaan negara. Pertumbuhan penerimaan pajak dalam dua bulan pertama disebut sempat mencapai 30 persen sebelum melandai ke 16 persen dan diproyeksikan tumbuh hingga 20 persen sampai akhir tahun.

“Ini pengumpulan pajak atau pertumbuhan pengumpulan pajak yang amat signifikan dalam beberapa tahun terakhir,” jelasnya.

Purbaya juga memastikan defisit anggaran tetap dijaga di bawah batas aman pemerintah.

“Yang jelas akan kita maintain defisit terkendali di bawah tiga persen,” ucapnya.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)