Mengenal Stoicism dan 4 Cara Sederhana Menerapkannya-Tips Kesehatan

18 September 2026 11:08

Jakarta: Tekanan pekerjaan, masalah pribadi, hingga berbagai hal yang berada di luar kendali sering kali membuat seseorang merasa stres dan cemas. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan untuk tetap tenang dan mengatur respons terhadap suatu masalah menjadi hal yang penting.

Salah satu pendekatan yang dapat membantu seseorang menghadapi situasi tersebut adalah stoicism atau stoikisme. Filosofi yang berasal dari Yunani Kuno ini mengajarkan seseorang untuk membedakan hal-hal yang dapat dikendalikan dan hal-hal yang berada di luar kendali.

Lantas, apa sebenarnya stoicism dan bagaimana cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari?

 

Apa Itu Stoicism?

Mengutip Halodoc dalam artikel Baik untuk Mental, Begini Cara Menerapkan Gaya Hidup Stoicism, stoicism merupakan filosofi yang menekankan ketenangan ketika menghadapi perasaan maupun situasi yang sulit.

Stoikisme tidak berarti seseorang harus menekan atau mengabaikan emosinya. Filosofi ini justru mengajarkan seseorang untuk memberikan respons yang lebih rasional terhadap situasi, terutama ketika menghadapi sesuatu yang tidak dapat dikendalikan.

Salah satu prinsip utamanya adalah dichotomy of control atau dikotomi kendali. Prinsip ini membagi berbagai hal dalam kehidupan menjadi sesuatu yang berada dalam kendali kita, seperti pikiran, tindakan, dan respons, serta hal-hal yang berada di luar kendali, seperti pendapat orang lain, cuaca, atau hasil akhir dari suatu usaha.

Dengan memahami batas tersebut, seseorang dapat mengalihkan perhatian dari hal-hal yang tidak bisa diubah dan lebih fokus pada tindakan yang memang dapat dilakukan.

Cara Menerapkan Stoicism Sehari-hari

Halodoc menyebut ada sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk menerapkan prinsip stoikisme dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa di antaranya:

1. Menulis jurnal harian

Luangkan waktu pada pagi atau malam hari untuk menuliskan pikiran, mengevaluasi emosi, dan memikirkan respons yang lebih rasional terhadap berbagai tantangan yang dihadapi.

2. Fokus pada respons, bukan kejadian

Ketika menghadapi situasi yang membuat emosi meningkat, beri jeda sebelum bereaksi. Kita tidak selalu dapat mengendalikan apa yang terjadi, tetapi masih dapat menentukan bagaimana meresponsnya.

3. Melatih visualisasi negatif

Stoikisme juga mengenal praktik premeditatio malorum, yakni membayangkan secara rasional kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Latihan ini dapat membantu seseorang mempersiapkan diri secara mental sehingga tidak terlalu terkejut ketika menghadapi situasi yang tidak diinginkan.

4. Belajar menerima realitas

Prinsip berikutnya adalah menerima hal-hal yang memang tidak dapat diubah. Penerimaan bukan berarti pasif atau menyerah, tetapi memahami keadaan dan mengarahkan energi pada hal-hal yang masih dapat dilakukan.

Penerapan stoikisme pun tidak berarti seseorang harus selalu terlihat tenang atau tidak boleh merasa sedih, marah, maupun kecewa. Justru, memahami emosi dan memilih respons yang lebih terukur menjadi bagian penting dari pendekatan ini.

 

Jika perasaan cemas atau kewalahan terus berlangsung dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, pendekatan seperti stoikisme juga tidak seharusnya menggantikan bantuan profesional. Halodoc menyarankan untuk mencari bantuan dokter atau psikolog klinis apabila kondisi tersebut tidak kunjung membaik atau disertai gejala depresi.

Nah, pada akhirnya stoikisme bukan tentang menghilangkan emosi atau mengabaikan masalah. Filosofi ini lebih menekankan kemampuan untuk mengenali apa yang berada dalam kendali kita, menerima hal yang tidak dapat diubah, dan memilih respons yang lebih rasional dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.

(Sofwa Najla Tsabita Sunanto)

(Zein Zahiratul Fauziyyah)


Close Ads X
Close Ads X