PLTS 100 GWp Ditarget Kurangi Emisi 140 Juta Ton CO2 /Tahun

25 August 2026 17:56

Bali: Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Gigawatt-peak (GWp) ditargetkan mampu menurunkan emisi karbon dioksida (CO2) hingga 140 juta ton per tahun. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat transisi menuju energi bersih sekaligus memperkuat kedaulatan energi nasional.

"Bapak Presiden, kalau ini mampu kita implementasikan semuanya, penurunan emisi sebesar 140 juta ton CO2 per tahun dengan nilai ekonomi karbon sebesar 6,31 triliun rupiah," kata Bahlil dalam laporannya, dikutip dari tayangan Breaking News Metro TV, Selasa 25 Agustus 2026.  

Bahlil menyampaikan hal tersebut saat melaporkan peluncuran dan groundbreaking program PLTS 100 GWp yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto di Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa, 25 Agustus 2026.

Menurut Bahlil, program PLTS 100 GWp akan dilaksanakan secara masif dalam tiga tahun. Pada tahap awal, pemerintah melakukan groundbreaking PLTS dengan total kapasitas 5,3 GWp yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.

Khusus Bali, pemerintah menyiapkan PLTS berkapasitas 1.000 megawatt atau 1 GWp yang dilengkapi baterai. Pengembangan PLTS di Bali juga dinilai sejalan dengan upaya menjadikan sektor pariwisata menggunakan energi yang lebih bersih.

Bahlil mengatakan penggunaan PLTS di Bali berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Dengan kapasitas 1.000 MW, PLTS di Bali diproyeksikan mampu melakukan efisiensi penggunaan sekitar 0,6 juta kiloliter solar yang selama ini digunakan PLN.

"Jadi tidak heran kemudian kalau ini kita lakukan di Bali karena kampanyenya adalah green energy," ujar Bahlil.

Secara nasional, Bahlil menyebut masih terdapat sekitar 12,6 GW pembangkit listrik yang menggunakan solar. Pengalihan pembangkit tersebut ke energi terbarukan dinilai dapat menekan kebutuhan bahan bakar minyak dan mengurangi impor solar.

"Dan rata-rata kita targetkan total listrik yang ada di Indonesia masih ada 12,6 Gigawatt yang memakai solar. Dari 12,6 Gigawatt itu kita menghasilkan minyak kita kurang lebih ekivalen dengan 230 sampai dengan 250 ribu barel per hari. Jadi ini Bapak kalau ini mampu kita bisa lakukan, maka penurunan terhadap impor BBM kita khususnya jenis solar akan turun dan semuanya kita memakai energi nasional," katanya.

Selain manfaat lingkungan, program PLTS 100 GWp juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi. Bahlil memperkirakan total investasi program tersebut mencapai sekitar USD73,9 miliar atau lebih dari Rp1.140 triliun.

Investasi itu diperkirakan dapat menciptakan sekitar 5,52 juta lapangan kerja dan menghasilkan efisiensi subsidi sekitar Rp73,9 triliun setiap tahun.

Bahlil menegaskan pengembangan energi surya juga diarahkan untuk memberikan nilai tambah bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah mendorong agar panel surya dan baterai dapat diproduksi dengan melibatkan tenaga kerja dalam negeri.

"Jika mataharinya matahari Indonesia, panel suryanya dibuat oleh jerih payah rakyat Indonesia, dan baterai listriknya dihasilkan dari keringat tenaga kerja Indonesia, maka energi surya ini adalah energi Indonesia, energi Ibu Pertiwi," ujar Bahlil.

Program tersebut juga akan diarahkan ke daerah yang belum mendapatkan akses listrik. Bahlil mengatakan PLTS 100 GWp akan dikombinasikan dengan program listrik masuk desa sehingga wilayah yang selama ini belum teraliri listrik dapat memperoleh akses energi.

"Nah daerah-daerah, desa-desa, yang selama ini belum ada listrik, kita akan penetrasi dengan program 100 Gigawatt dan listrik masuk desa agar semuanya bisa ada listriknya," terangnya. 

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X