Jakarta: Tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) kembali dilaporkan terluka dalam serangan saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon. Menyikapi kondisi ini, Anggota Komisi I DPR RI, Amelia Anggraini, menegaskan pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh sebelum memutuskan penarikan pasukan.
Menurut Amelia, langkah penarikan tidak bisa diambil secara reaktif. Dalam hal ini, Ia menyebut harus ada evaluasi menyeluruh terhadap aspek keamanan, stabilitas kawasan, serta implikasi strategis bagi posisi Indonesia di tingkat internasional.
“Sebagai anggota Komisi I DPR RI, kami memandang situasi ini secara hati-hati dan berbasis pada kepentingan nasional jangka panjang tentunya. Dan penarikan pasukan bukanlah keputusan yang bisa diambil secara reaktif, jadi harus melalui evaluasi menyeluruh terhadap aspek keamanan, stabilitas kawasan, serta implikasi strategis bagi posisi Indonesia di tingkat internasional,” ujar Amelia.
Evaluasi Menyeluruh Jadi Kunci
Amelia menekankan, evaluasi harus mencakup kehadiran pasukan Indonesia dalam kerangka mandat yang jelas, terukur, dan sesuai dengan hukum internasional.
“Evaluasi secara berkala harus dilakukan, termasuk menilai efektivitas misi, tingkat risiko di lapangan, serta kesiapan skenario transisi apabila penarikan ini menjadi opsi rasional,” kata Amelia.
Ia menambahkan, keputusan penarikan tetap harus bergantung pada hasil evaluasi objektif. Apabila kondisi di lapangan menunjukkan bahwa tujuan misi telah tercapai atau risiko tidak lagi sebanding dengan manfaat strategis, keputusan akan dikembalikan kepada pemerintah dan
TNI untuk dipertimbangkan secara serius.
Mitigasi Risiko Lebih Penting daripada Penarikan Cepat
Amelia menegaskan, selama kepentingan nasional dan komitmen internasional Indonesia masih menuntut kehadiran pasukan di Lebanon, langkah paling bijak adalah memperkuat mitigasi risiko, bukan terburu-buru menarik pasukan.
“Namun, selama kepentingan nasional dan komitmen internasional Indonesia masih menuntut kehadiran tersebut, maka langkah yang paling bijak adalah memperkuat mitigasi risiko, bukan terburu-buru untuk menarik pasukan,” ujarnya.