Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga melumpuhkan sejumlah fasilitas pendidikan. Salah satu sekolah yang terdampak cukup parah adalah MTsN 2 Manggarai Barat di Labuan Bajo.
Meski kondisi bangunan sekolah mengalami kerusakan berat di beberapa titik, kegiatan belajar mengajar (KBM) telah kembali dimulai sejak 31 Agustus lalu. Namun, untuk memastikan keamanan, para siswa terpaksa mengikuti proses pembelajaran di dalam tenda darurat.
Kerusakan Struktur Bangunan
Kepala Sekolah MTsN 2 Manggarai Barat, Syarif, mengungkapkan bahwa setidaknya terdapat tujuh ruangan belajar yang mengalami kerusakan berat akibat pergeseran tanah saat gempa terjadi. Kondisi tiang penyangga yang retak dinilai sangat membahayakan keselamatan siswa dan guru.
"Ruangan guru gedungnya bahkan terbelah dua, mulai dari dinding sampai ke dasar lantai. Kondisinya sudah tidak layak huni dan telah diberi garis merah oleh pihak PUPR" kata Kepala Sekolah MTsN 2 Manggarai Barat, Syarif, dikutip dari tayangan
Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Kamis, 3 September 2026.
Selain ruang kelas dan ruang guru, ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) juga mengalami pergeseran struktur. Syarif menambahkan bahwa faktor usia bangunan yang sudah mencapai 30 tahun membuat fasilitas sekolah tersebut rentan terhadap guncangan gempa.
Belajar di Tenda Darurat
Untuk mengantisipasi terhentinya proses pendidikan, Kementerian Agama telah menyalurkan bantuan berupa dua unit tenda belajar serta paket school tool kit bagi para siswa.
Saat ini, sekolah menerapkan sistem shifting atau pembagian waktu belajar agar seluruh siswa tetap bisa mendapatkan akses pendidikan meski ruang kelas permanen belum bisa digunakan.
"Kami sengaja melepas bagian seng di atap gedung yang rusak agar tidak ada lagi warga madrasah yang mendekat atau duduk di bawah bangunan berbahaya tersebut," ucap Syarif.
Pihak sekolah berharap pemerintah segera memberikan perhatian khusus untuk rehabilitasi
fasilitas pendidikan di wilayah terdampak. Mengingat tingkat kerusakan yang cukup masif, Syarif menekankan bahwa sekolah membutuhkan pembangunan gedung baru, bukan sekadar renovasi ringan, demi kenyamanan dan keamanan jangka panjang.
Hingga saat ini, para siswa tetap menunjukkan antusiasme tinggi untuk kembali belajar meski harus beradu dengan keterbatasan fasilitas di bawah tenda darurat. Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan segera mempercepat perbaikan sarana prasarana sekolah di NTT agar proses belajar mengajar dapat kembali normal seperti sediakala.