28 October 2026 17:47
Jakarta: Semangat Sumpah Pemuda tidak hanya diwujudkan melalui penyampaian aspirasi, tetapi juga lewat kontribusi nyata bagi masyarakat. Salah satunya melalui peran petani muda yang ikut memperkuat sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional.
Praktisi penggerak pemuda tani, Andik Nur Prabowo, menilai sektor pertanian saat ini semakin menarik bagi generasi muda. Ia menyebut harga gabah yang meningkat dan antusiasme anak muda untuk menggarap lahan menjadi sejumlah faktor yang mendorong perubahan tersebut.
“Untuk dunia pertanian saat ini, wah, enak sekali untuk petani saat ini. Harga gabah sudah tinggi, terus antusias petani muda juga sekarang banyak, beda dengan beberapa tahun yang lalu itu sektor pertanian dihuni oleh yang tua-tua. Sekarang anak muda sudah berbondong-bondong ke lahan,” ujar Andik dalam tayangan Prioritas Indonesia Metro TV, Rabu, 28 Oktober 2026.
Menurut Andik, hasil yang menjanjikan menjadi daya tarik utama bagi anak muda untuk menekuni pertanian. Selain dapat bekerja di dekat rumah, petani juga berpeluang memperoleh pendapatan yang lebih baik.
“Sekarang hasilnya tinggi, jadi anak muda tertarik untuk ke situ. Jadi petani kan kerja di dekat rumah, dapat hasil besar, siapa yang enggak mau,” katanya.
Andik menambahkan, kondisi harga gabah di lapangan turut memberikan dorongan bagi petani. Ia menyebut harga gabah yang sebelumnya ditetapkan dengan harga pembelian pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram kini dapat mencapai Rp8.500 per kilogram di wilayahnya.
“Harga gabah yang HET-nya kan Rp6.500 ya. Itu petani sudah senang. Tapi sekarang kayak keruntuhan durian. Sekarang harga gabah di lapangan bisa tembus Rp8.500,” ungkap Andik.
Selain harga gabah, ia menilai ketersediaan pupuk subsidi yang datang lebih awal turut membantu kegiatan pertanian. Menurutnya, keterlambatan pupuk pada masa sebelumnya membuat petani harus membeli pupuk nonsubsidi dengan harga beberapa kali lipat lebih mahal.
“Pupuk subsidi sekarang datangnya lebih awal. Dulu biasanya sering telat, sekarang itu musim panen tiba itu sudah datang pupuk, sudah disiapkan,” jelasnya.
Sementara itu, pakar sosial Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, menilai bentuk perjuangan generasi muda saat ini berbeda dengan perjuangan para pemuda pada masa lalu. Jika dahulu persatuan menjadi kekuatan utama, kini tindakan nyata menjadi salah satu cara untuk meneruskan semangat tersebut.
“Ya, memang model pertempurannya, pertarungannya sekarang beda ya. Kalau dulu kan kita dengan senjata kita persatuan, sekarang justru senjata kita tindakan nyata sebagaimana yang disampaikan oleh Mas Andik tadi,” kata Devie.
Devie juga menyoroti peran media sosial dalam membentuk cara pandang anak muda. Menurutnya, algoritma media sosial cenderung memperbesar konten negatif karena lebih mudah memicu kewaspadaan dan emosi pengguna. Akibatnya, kisah positif mengenai anak muda yang berkontribusi melalui sektor pertanian berisiko kurang mendapat perhatian.
Baca Juga :
“Makanya sayangnya cerita-cerita hebat, cerita-cerita keren kayak Mas Andik itu kurang membangkitkan emosi kewaspadaan sehingga akhirnya ketutup nih dengan sesuatu yang belum tentu benar dan belum tentu juga baik,” ujarnya.
Ia menilai perkembangan teknologi justru dapat membuka peluang kerja baru bagi generasi muda di sektor pertanian. Kontribusi tersebut tidak terbatas pada kegiatan mengolah lahan, tetapi juga mencakup pemasaran hasil panen, distribusi, hingga pemanfaatan teknologi seperti drone.
Menurut Devie, keterlibatan anak muda dalam berbagai aspek tersebut dapat membantu petani memperluas pasar dan meningkatkan kapasitas produksi. Karena itu, generasi muda memiliki ruang untuk berkontribusi sesuai dengan keterampilan dan minat masing-masing.
“Belum lagi misalnya pakai teknologi drone, yang sukanya main-main game drone nah itu kan bisa juga dipakai ke pertanian,” tutur Devie.
Momentum Hari Sumpah Pemuda ke-98 menjadi pengingat bahwa semangat persatuan dan pengabdian kepada bangsa dapat diwujudkan melalui berbagai bidang. Pengalaman Andik dan pandangan Devie menunjukkan bahwa sektor pertanian juga membuka ruang bagi generasi muda untuk berkarya, memanfaatkan teknologi, dan berkontribusi bagi ketahanan pangan Indonesia.