Jakarta: Perusahaan teknologi Meta Platforms mulai meluncurkan kebijakan baru berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk memperkuat perlindungan pengguna usia muda di platformnya, termasuk Instagram dan Facebook. Sistem ini dirancang untuk secara otomatis mengidentifikasi pengguna di bawah umur melalui analisis perilaku dan visual.
Teknologi tersebut memanfaatkan berbagai sinyal, mulai dari aktivitas pengguna hingga konten yang diunggah, seperti foto, video, komentar, bio, dan keterangan. AI kemudian memperkirakan usia pengguna, bahkan jika mereka mencantumkan usia yang tidak sesuai. Pembatasan ini mencakup kontrol interaksi, pengurangan paparan terhadap konten sensitif, hingga perlindungan tambahan melalui fitur 'Teen Account'.
Deteksi Otomatis dan Verifikasi Usia
Melansir Biometric Update, Meta telah mulai menggunakan AI untuk mendeteksi dan menghapus akun milik pengguna di bawah usia 13 tahun. Selain itu, sistem juga secara otomatis mengaktifkan perlindungan khusus bagi akun yang terindikasi sebagai milik remaja, bahkan jika pengguna mengaku berusia di atas 18 tahun.
Sementara itu, dilansir dari TechNewsWorld, Meta menjelaskan bahwa teknologi AI mereka memindai profil pengguna untuk mencari petunjuk kontekstual terkait pelanggaran batas usia. Jika sebuah akun terindikasi dimiliki oleh anak di bawah umur, akun tersebut dapat dinonaktifkan sementara hingga pemiliknya menyelesaikan proses verifikasi usia.
Kebijakan Baru untuk Anak di Bawah 13 Tahun
Melansir dari laman resmi Meta, anak usia 10 hingga 12 tahun kini diperbolehkan memiliki akun dalam kondisi tertentu, yaitu harus didaftarkan dan diawasi sepenuhnya oleh orang tua atau wali. Namun, akses ini hanya berlaku pada perangkat tertentu seperti Meta Quest 2 dan 3. Sementara itu, anak di bawah usia 10 tahun tetap tidak diizinkan menggunakan layanan Meta.
Untuk meningkatkan akurasi deteksi, Meta juga mengembangkan teknologi AI yang mampu menganalisis elemen visual, seperti struktur fisik dalam foto atau video. Perusahaan menegaskan bahwa metode ini bukan pengenalan wajah, melainkan analisis pola visual secara umum.
Langkah ini merupakan respons atas meningkatnya tekanan dari regulator global yang menuntut perlindungan lebih kuat bagi anak-anak di dunia digital. Dengan mengintegrasikan AI dalam sistem verifikasi usia, Meta berupaya menciptakan lingkungan media sosial yang lebih aman bagi pengguna muda sekaligus melengkapi metode pengawasan yang sudah ada.
Selain itu, Meta juga mempermudah pengguna untuk melaporkan akun mencurigakan melalui aplikasi maupun Pusat Bantuan. Laporan tersebut akan ditinjau melalui kombinasi antara moderator manusia dan sistem AI guna memastikan proses evaluasi yang cepat dan konsisten.
(Jessica Nur Faddilah)