Komitmen Pemerintah Percepat Elektrifikasi Nasional

14 April 2026 15:18

Jakarta: Penggunaan elektrik vehikel bisa memangkas konsumsi minyak global secara signifikan. Saat ini pemerintah Indonesia berkomitmen untuk melakukan percepatan elektrifikasi nasional. Lantas bagaimana perkembangan terkininya?


Akselerasi EV pangkas konsumsi minyak global


Percepatan adopsi kendaraan listrik atau elektrik vehikel mulai memberikan dampak nyata terhadap peta energi global. Data dari Amber Energy Agency dan menunjukkan penggunaan EV ini telah memangkas konsumsi minyak dunia sekitar 1,7 juta barel perharinya. Angka ini bukan kecil, karena sebagai perbandingan volume tersebut hampir mendekati ekspor minyak Iran yang mencapai 2,4 juta barel perhari melalui selat Hormuz.

Artinya apa? Artinya tanpa disadari elektrifikasi transportasi telah menggeser permintaan minyak dalam skala global. Ini menjadi sinyal bahwa transisi energi bukan lagi wacana, melainkan sedang berlangsung secara struktural. Lebih jauh penurunan konsumsi minyak ini juga berdampak pada berkurangnya ketergantungan dunia terhadap pasokan energi fosil. Termasuk dari kawasan rawan seperti Timur Tengah. 


Mengapa akselerasi EV diperlukan?


Yang menjadi pertanyaan utama adalah mengapa akselerasi dari EV ini menjadi penting. Setidaknya ada empat alasan, kita akan bahas satu persatu. Yang pertama karena pasokan energi fosil ini rentan. Mengapa? Karena gejolak geopolitik seperti konflik di kawasan Timur Tengah bisa langsung mengganggu distribusi dan memicu krisis energi.

Kemudian yang kedua adalah harga minyak yang berpengaruh besar. Harga minyak ini sangat fluktuatif dan berpengaruh besar terhadap ekonomi global. Jadi kenaikan harga minyak akan meningkatkan beban subsidi, menekan fiskal negara dan akhirnya bisa memicu inflasi.

Ketiga adalah elektrifikasi energi. Elektrifikasi energi ini menjadi solusi yang strategis. Mengapa? Karena kendaraan listrik tidak hanya menggantikan BBM saja tetapi juga terintegrasi dengan energi terbarukan seperti tenaga surya dan juga angin.

Dan yang keempat adalah transisi energi global. Jadi akselerasi dari EV ini merupakan bagian dari transisi energi global menuju sistem yang lebih bersih dan juga berkelanjutan. Negara-negara mulai menempatkan EV sebagai pilar utama dalam menekan emisi dan mengurangi ketergantungan minyak.


Perbandingan transisi EV di beberapa negara


Bahkan di kawasan ASEAN, adopsi EV ini menunjukkan lonjakan signifikan. Ada negara Singapura, Vietnam, Thailand dan Indonesia yang sudah ada lonjakan signifikan. Ini menunjukkan bahwa momentum transisi sudah terjadi di kawasan regional.


Stimulasi dukungan EV di Indonesia


Yang menjadi tantangan adalah bagaimana cara kita bisa meningkatkan produksi EV yang buat masyarakat bisa beralih.  Harus ada stimulasi dukungan ke EV.

Jadi di dalam negeri ini pemerintah sudah mendorong percepatan EV melalui berbagai insentif fiskal. Salah satunya adalah penurunan pajak pertambahan nilai atau PPN untuk kendaraan listrik berbasis produksi lokal menjadi hanya 1%. Tidak hanya itu saja pemirsa, pemerintah juga memberikan bea masuk 0?gi produsen otomatif yang berinvestasi dan membangun pabrik di Indonesia.

Dua kebijakan ini tentunya bukan hanya untuk meningkatkan penjualan saja. Tetapi juga agar bisa membangun ekosistem industri termasuk rantai pasok baterai dan juga manufaktur domestik. Dampaknya pun sudah mulai terlihat.

Data menunjukkan bahwa impor dari bahan bakar minyak untuk sektor transportasi sudah turun hingga 48%. Seiring dengan meningkatnya adopsi EV. Ini menjadi indikator penting bahwa transisi energi memberikan manfaat langsung terhadap neraca energi nasional.

Lantas bagaimana perbandingan transisi EV di Indonesia dengan beberapa negara lainnya kita akan bahas di slide selanjutnya. Ada sejumlah negara yang bisa anda jadikan rujukan perbandingan dan yang di highlight adalah negara Indonesia. 

Adopsi kendaraan listrik global masih timpang di antar negara. Misalnya di ASEAN ada levelnya hanya di 5%. (4:08) Kemudian Malaysia ini di angka 6%. Lalu Amerika Serikat di angka 10%. Tiga negara ini menunjukkan bahwa transisinya masih di tahap awal. Sedangkan Indonesia berada di angka 15%. Bahkan Indonesia sudah melampaui Amerika Serikat. Didorong dengan insentif dan kebijakan pemerintah tapi masih dibawa negara-negara lainnya. 

Ada negara apa saja? Mulai dari Thailand 21%. Kemudian Vietnam 40%. Singapura 43% yang lebih agresif dalam adopsi. Dan di tingkat global sudah ada China yang menembus 50%. Dan Norwegia produksi sementara ini sudah mencapai 92%. Didukung insentif besar dan infrastruktur yang matang. Artinya Indonesia sudah di jalur transisi tapi masih perlu percepatan ya agar mampu mengejar negara-negara pemimpin.

Di tengah ketidakpastian pasokan dan harga minyak. Elektrifikasi transportasi menjadi pilihan strategis untuk menjaga ketahanan energi. Indonesia pun mulai mengambil posisi melalui insentif fiskal, penguatan industri dan percepatan adopsi EV. Ke depan elektrifikasi transportasi berpotensi besar mengubah peta energi dunia. Dari berbasis minyak menuju energi yang lebih bersih, efisien dan berkelanjutan.

Sumber: Redaksi Metro TV

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Wijokongko)