Ruang publik tidak hanya sekadar tempat untuk beraktivitas. Objek-objek dan juga momen-momen sederhana yang ada di ruang publik bagi sebagian orang ini juga bisa menjadi inspirasi untuk diabadikan lewat jepretan foto.
Di ruang publik inilah para pegiat street photography yang tergabung dalam komunitas +62 Jump Street berkumpul. Dengan kamera profesional maupun fitur kamera di telepon genggam, mereka bersiap menangkap berbagai objek dan momen-momen menarik.
Kali ini, komunitas +62 Jump Street berburu foto di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Mereka menyusuri jalanan, trotoar, taman, pasar, dan ruang-ruang terbuka yang menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat hingga sudut-sudut yang sering luput dari perhatian. Sebab, setiap sudut kota punya momen dan cerita yang layak diabadikan menjadi karya fotografi.
Mereka percaya tidak ada karya yang terlalu sederhana dan tidak ada cerita yang terlalu kecil. Semuanya punya ruang dan layak dihargai. Komunitas +62 Jump Street memang rutin berkumpul untuk berburu foto, bertukar perspektif, berbagi ide dan konten edukatif sambil ngobrol santai antarsesama pecinta fotografi ruang publik.
Founder +62 Jump Street, Teddy Tie mengatakan keberadaan komunitas yang kini punya anggota aktif 341 orang ini berawal dari konten street photography yang ia buat dan diunggah ke YouTube. Dari sana muncul ide untuk berkumpul menjadi satu komunitas.
Awalnya komunitas ini bernama Cetret atau cerita motret. Seiring berjalannya waktu, anggota komunitas terus bertambah hingga lintas usia. Bahkan ada anggota yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Agar lebih adaptif dan berjiwa muda, komunitas ini berubah nama menjadi +62 Jump Street.
"Biar jiwanya masih muda saya ganti nama jadi Jump Street biar kelihatannya berjiwa muda. Jump Street itu istilahnya kan kita terjun ke jalanan, jadi ada kesannya lebih semangatnya biar berjiwa muda juga teman-teman," kata Teddy, dalam program Metro Community, Sabtu, 2 Mei 2026.
Walau street photography menjadi hobi yang menyenangkan, menurut Teddy ada tantangan tersendiri yang harus dihadapi terutama bagi pemula. Biasanya para pemula merasa malu, takut, dan malas.
"Kebanyakan kalau yang baru pertama kali mulai motret street photography pasti bingung mau motretnya apa. Terus kedua takut, terus grogi karena bawa-bawa kamera. Kadang-kadang di tempat umum gitu kan kayaknya dilihatin orang. Itu biasa tantangan-tantangan yang baru melakukan street photography," tutur Teddy.
Meski hobi yang mereka geluti bukan untuk kepentingan komersial, +62 Jump Street tetap menekankan pentingnya etika dan privasi yang harus dijaga saat memotret di ruang publik. Simak keseruan motret +62 Jump Street dalam video di atas.