Kaki Siswa SD di Indragiri Hilir Diamputasi Usai Diinjak Teman Sekelas

5 August 2026 09:51

Nasib nahas menimpa RR (11), seorang pelajar di kawasan Lubuk Besar, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Ia diduga menjadi korban perundungan oleh teman sekelasnya yang berujung pada cedera parah hingga kaki kirinya terpaksa diamputasi.

Peristiwa memilukan tersebut terjadi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 003 Lubuk Besar, Kecamatan Kemuning, pada bulan November 2024 lalu. Kejadian bermula ketika korban sedang bertugas membersihkan ruang kelas.
 


Saat itu, korban menegur teman sekelasnya berinisial F yang sedang bermain bola di dalam ruangan. Tak terima dengan teguran tersebut, pelaku langsung menginjak kaki kiri korban dengan keras hingga korban kesakitan.

Seiring berjalannya waktu, kondisi kaki korban pasca-kejadian semakin memburuk dan menghitam. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, benturan tersebut menyebabkan penyumbatan pembuluh darah pada kaki korban. Luka serius inilah yang membuat tim dokter harus melakukan tindakan amputasi.

Kini, kondisi korban yang akrab disapa Rahma itu berangsur membaik pasca-menjalani serangkaian perawatan intensif. Ia sudah mulai bisa menggerakkan kakinya dan kembali tersenyum saat dijenguk oleh keluarga maupun warga sekitar.

Terkendala Biaya Pengobatan

Di tengah masa pemulihan, pihak keluarga dihadapkan pada kesulitan finansial. Ayah korban diketahui sedang tidak bekerja, sehingga pengobatan Rahma sempat terhenti akibat ketiadaan dana.

Siti Hajar, ibu korban, menuturkan penderitaan keluarganya dalam memenuhi kebutuhan medis seperti pampers, susu, hingga underpad.

"Berhenti obat waktu itu karena memang udah nggak punya dana untuk beli obat Kak Rahma, sampai terhenti beberapa hari karena memang kekurangan dana," ujar Siti Hajar dikutip dari Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Rabu 5 Agustus 2026.

Untuk bertahan, keluarga saat ini hanya mengandalkan uluran tangan dari para dermawan. "Ya kalau selama ini ada bantuan dari kawan-kawan maupun dari yang mana pun ada menyisihkan rejeki mereka untuk Kak Rahma. Duit itulah yang kita butuh untuk kebutuhan sehari-hari," ungkapnya.

Kasus perundungan yang menelan korban fisik ini mendapat perhatian dari aparatur desa setempat. Kepala Desa Lubuk Besar, Tri Aprianto, menyampaikan keprihatinannya atas tragedi yang menimpa warganya. Tri menegaskan menolak keras segala bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan.

"Kita tentu tidak membenarkan perilaku bullying di sekolah, di mana pun," ucapnya.

(Sofia Zakiah)


Close Ads X
Close Ads X