13 May 2026 13:17
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons kondisi nilai tukar Rupiah yang terus mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Bendahara Negara mengaku akan mulai mengaktifkan instrumen intervensi pasar obligasi negara mulai Rabu, 13 Mei 2026.
Langkah ini diambil setelah nilai tukar Rupiah mencatat posisi terendah sepanjang sejarah, menembus level Rp17.510 per dolar AS pada perdagangan Selasa 12 Mei 2026. Mata uang Indonesia tercatat terdepresiasi sebesar 0,56%, melampaui asumsi makro yang telah ditetapkan dalam APBN 2026.
Dalam pernyataannya usai melantik pejabat di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak, Menkeu Purbaya menyatakan pihaknya akan masuk ke pasar obligasi untuk menekan menekan potensi kerugian modal (capital loss) bagi investor asing. Pemerintah akan mengaktifkan instrumen seperti Bond Stabilization Fund (BSF) agar imbal hasil (yield) tidak terlalu tinggi.
"Kita akan mulai membantu besok (13 Mei 2026) mungkin dengan masuk ke market. Bantunya dengan masuk ke bond market, itu yang Bond Stabilization Fund, tetapi belum fund semuanya kita aktifkan di instrumen yang kita punya di sini. Besok mulai jalan," ujar Purbaya yang dikutip Zona Bisnis pada Rabu, 13 Mei 2026.
Baca juga:
Populer Ekonomi: Harga Emas Antam Naik hingga Cara Mengetahui Status Desil Bansos |