Jakarta: Nervous stomach merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan sakit perut, mual, atau perubahan pencernaan yang muncul ketika seseorang mengalami stres atau kecemasan.
Gejalanya dapat berupa sensasi seperti butterflies in the stomach, mual atau muntah, kembung, banyak gas, kram atau nyeri perut, diare, sembelit, hingga kehilangan nafsu makan.
Kondisi tersebut berkaitan dengan hubungan antara otak dan sistem pencernaan atau gut-brain connection. Keduanya berkomunikasi melalui saraf vagus dan jaringan sinyal yang disebut gut-brain axis. Hubungan ini memungkinkan kondisi yang terjadi pada otak maupun saluran pencernaan saling memengaruhi.
Ketika seseorang mengalami kecemasan atau stres, otak melepaskan hormon stres, termasuk kortisol dan adrenalin. Hormon tersebut dapat memengaruhi kerja sistem pencernaan dengan mempercepat atau memperlambat proses pencernaan, meningkatkan produksi asam lambung, serta meningkatkan sensitivitas usus terhadap rasa sakit.
Perubahan tersebut dapat menjelaskan mengapa situasi yang membuat seseorang stres terkadang diikuti dengan sakit perut, mual, atau keinginan untuk lebih sering menggunakan toilet.
Mengalami sensasi seperti
butterflies in the stomach sesekali sebelum menghadapi situasi yang menegangkan merupakan hal yang dapat terjadi. Namun, masalah pencernaan yang muncul secara berulang selama periode stres dapat berkaitan dengan kondisi tertentu, seperti
irritable bowel syndrome (IBS),
functional dyspepsia atau gangguan pencernaan kronis, serta gangguan kecemasan dan masalah pencernaan yang berkaitan dengan depresi.
Jika keluhan berlangsung terus-menerus, cukup parah hingga mengganggu makan atau tidur, atau disertai penurunan berat badan maupun darah dalam tinja, pemeriksaan medis diperlukan. Kondisi yang disertai kecemasan, stres, atau depresi yang berat juga perlu mendapat perhatian.
(Titik Nurmalasari)