Pengamat Dorong Sistem Peringatan Dini Kualitas Udara di Jakarta

19 October 2026 11:41

Kualitas udara di wilayah DKI Jakarta belakangan ini terus menjadi sorotan, terlebih dengan adanya temuan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai indikasi sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan yang terbawa hingga ke atmosfer atas lapisan Pulau Jawa. Mengantisipasi dampak buruk polusi yang makin kompleks, Pengamat Tata Kota Yayat Supriatna mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk segera menerapkan sistem peringatan dini kualitas udara di ruang-ruang publik.

Menurut Yayat, sistem informasi yang cepat dan transparan sangat krusial bagi warga sebelum mereka memutuskan beraktivitas di luar rumah.

"Ketika sebelum dan sesudah terjadi kondisi memburuk, itu harus ada peringatan kualitas udara. Harus ada informasi tentang kondisi udara yang buruk: hari ini berbahaya, aman, atau merah, kuning, hijau. Itu harus dikasih tahu," tegas Yayat dalam dialog Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Senin 19 Oktober 2026. 

Yayat menyoroti pentingnya ketersediaan layar informasi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), khususnya di titik-titik kumpul massa dan fasilitas publik seperti sekolah hingga area Car Free Day (CFD).
 



"Pada lingkungan sekolah-sekolah di Jakarta, ada tidak informasi tentang ini? Ada tidak upaya pencegahan? Di ranah publik ketika di situ ada kumpulan massa, maka fasilitas informasi itu perlu kita sampaikan," ujar Yayat.

"Dalam konteks hari bebas kendaraan bermotor untuk orang mau berolahraga, ada tidak di fasilitas itu informasi (anjuran) sebaiknya menunda dulu untuk melaksanakan olahraga? Sebentar lagi Jakarta ada lomba maraton misalnya, harus diinformasikan kepada masyarakat apakah pada hari itu udara Jakarta cukup sehat atau tidak," sambungnya.

Tingkat urgensi peringatan dini ini didasari pada kondisi Jakarta yang memiliki kerentanan ganda soal polusi udara. Ibu kota tidak hanya menerima beban dari luar, melainkan juga dihantui emisi internal yang sangat tinggi.

"Jakarta itu sangat rentan karena dua faktor: faktor dari eksternal dari lingkungan di luar Jakarta dan sekitarnya, serta faktor internal di dalam wilayah Jakarta sendiri," kata Yayat menjelaskan.

Terkait polusi internal, Yayat menekankan perlunya evaluasi per wilayah untuk mengetahui sumber utama emisi lokal. "Kita perlu mengantisipasi potensi menurunkan durasi paparan terhadap masyarakat. Misalnya wilayah Kebon Jeruk hari ini tidak sehat, apa yang menyebabkan wilayah itu tidak sehat? Jangan-jangan ada potensi yang cukup tinggi seperti pembakaran (sampah) atau polusi kendaraan meningkat di kawasan itu, nah pengendaliannya bagaimana," pungkasnya.

(Sofia Zakiah)


Close Ads X
Close Ads X