2 Hari Menuju Pementasan Terakhir, Musikal Perahu Kertas Ajak Penonton Hidupkan Lagi Mimpi

Zein Zahiratul Fauziyyah • 13 February 2026 11:53

Jakarta: Tinggal dua hari sebelum tirai terakhir ditutup pada 15 Februari 2026, Musikal Perahu Kertas di Ciputra Artpreneur kian menjadi magnet bagi para penikmat seni pertunjukan. Di penghujung masa pementasannya, kisah tentang mimpi dan keberanian ini justru terasa semakin relevan, seolah mengingatkan bahwa waktu untuk mengejar mimpi tidak pernah benar-benar menunggu.

Diadaptasi dari novel legendaris karya Dee Lestari yang sebelumnya sukses diangkat ke layar lebar pada 2012, Perahu Kertas kini menjelma menjadi pertunjukan musikal berskala besar. Cerita yang telah hidup di benak pembaca dan penonton film, kini hadir dalam format panggung yang lebih intim sekaligus megah.

Musikal ini merangkum perjalanan Kugy dan Keenan, dua insan dengan darah seni yang harus berhadapan dengan pilihan hidup, ekspektasi, serta perasaan yang kerap terpendam. Kugy, sosok pengkhayal yang menulis dunia lewat dongeng, dan Keenan, perupa yang mengekspresikan diri melalui kanvas, dipertemukan dalam alur yang tidak hanya berbicara tentang cinta, tetapi juga tentang keberanian setia pada mimpi.
 


Sebanyak 21 lagu dibawakan dalam pertunjukan ini, termasuk lagu ikonik “Perahu Kertas” yang dipopulerkan Maudy Ayunda, serta deretan lagu lain seperti “Miliaran Manusia”, “Dua Manusia”, “Agency”, “Tahu Diri”, hingga “Langit Amat Indah”. Aransemen musik yang digarap oleh Ifa Fachir dan Simhala Avadana menghadirkan pengalaman emosional yang menyatukan unsur sastra, musik, dan teater dalam satu tarikan napas.

Dari sisi produksi, lebih dari 250 orang terlibat dalam mewujudkan musikal ini ke atas panggung. Skala besar tersebut tercermin dari tata panggung yang dirancang untuk memperkuat emosi tiap adegan, visual yang sinematik, serta orkestrasi musik yang hidup.

"Sebuah kehormatan bagi kami untuk berkolaborasi dengan Indonesia Kaya mempersembahkan Musikal Perahu Kertas, sebuah karya yang lebih dari sekadar adaptasi medium, melainkan juga upaya merawat sebuah cerita agar jiwanya tetap utuh," kata Yonathan Nugroho, Produser Eksekutif Musikal Perahu Kertas.

Bagi Dee Lestari, adaptasi ini menjadi tonggak baru dalam perjalanan panjang Perahu Kertas. Dari benak, ke halaman, ke layar, hingga kini ke panggung musikal. Ia menyebut transformasi ini sebagai bukti bahwa mimpi yang dirawat dengan sabar akan menemukan jalannya sendiri.

"Perahu Kertas telah menempuh perjalanan yang sangat panjang, dari benak, ke halaman, ke layar, dan kini ke panggung musikal. Kisah Kugy dan Keenan bertransformasi ke dalam bentuk yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya, dan perjalanan ini mengajarkan saya bahwa mimpi yang dijaga dengan sabar akan selalu menemukan jalannya bermanifestasi. Saya berharap versi musikal ini dapat menyentuh lebih banyak hati serta memantik para penonton untuk berani hidupkan lagi mimpi-mimpi,” ujarnya.

Dengan hanya dua hari tersisa sebelum pementasan berakhir, Musikal Perahu Kertas bukan sekadar tontonan, melainkan refleksi. Sebuah pengingat bahwa di tengah realitas yang kerap memaksa kompromi, selalu ada ruang untuk kembali menghidupkan mimpi-mimpi yang sempat tertunda.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Zein Zahiratul Fauziyyah)