7 July 2026 21:27
Warga sekitar TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, meminta untuk direlokasi oleh pemerintah. Permintaan itu mencuat setelah kebakaran TPA Jatiwaringin berlangsung selama sepekan terakhir, menimbulkan dampak asap sehingga mengganggu aktivitas dan kesehatan warga.
Asap kebakaran TPA Jatiwaringin masih menyelimuti permukiman warga Desa Tanjakan Mekar, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa, 7 Juli 2026. Meski asap dampak kebakaran ini masih cukup tebal, sejumlah warga terlihat tetap melakukan aktivitas seperti biasa meski menggunakan masker.
Sebanyak 114 warga terdampak pun terpaksa harus bertahan di pengungsian lantaran kualitas udara di permukiman mereka masuk kategori bahaya. Warga terdampak menginginkan adanya relokasi tempat tinggal mereka, sebab dampak pencemaran TPA Jatiwaringin berbahaya bagi keselamatan.
Menurutnya, keberadaan TPA telah lama menimbulkan keresahan, terutama asap kebakaran yang kerap terjadi saat musim kemarau. Warga berharap pemerintah dapat memberikan solusi jangka panjang agar masyarakat tidak lagi hidup berdampingan dengan TPA Jatiwaringin.
"Relokasi pengungsian atau warga, memang itu rencana pemerintah termasuk Bupati, termasuk Camat dan kami sudah kami musyawarahkan. Karena tidak ada solusi selain kita relokasi,” ujar Kades Tanjakan Mekar, Uti dalam program Top News Metro TV, Selasa, 7 Juli 2026.
Kapolda Banten Tinjau TPA Jatiwaringin
Dalam program Top News Metro TV, Selasa, 7 Juli 2026, Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki meninjau langsung penanganan kebakaran di TPA Jatiwaringin di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten. Memasuki hari kedelapan, proses pemadaman masih berlangsung karena kepulan asap dan sejumlah titik api masih terus muncul dari dalam tumpukan sampah.
Hampir setengah dari total luas TPA seluas 33 hektare telah terdampak kebakaran dengan perkiraan area yang terbakar mencapai 15 hektare. Petugas menghadapi tantangan berat karena titik api berada di dalam tumpukan sampah dengan kedalaman diperkirakan mencapai 10 meter.
Kondisi cuaca yang kering akibat tidak turun hujan selama beberapa hari turut memperlambat proses pemadaman. Sementara itu, operasi modifikasi cuaca masih menunggu pertumbuhan awan sesuai prediksi BMKG.
Untuk mempercepat pemadaman, petugas mengerahkan helikopter water bombing yang telah beroperasi selama tiga hari, didukung mobil pemadam, alat berat serta metode water injection dengan memasukkan pipa langsung ke dalam tumpukan sampah guna menjangkau titik api di kedalaman.
Kapolda menegaskan hingga saat ini belum ditemukan indikasi kesengajaan maupun tersangka dalam peristiwa kebakaran TPA Jatiwaringin. Kebakaran diduga dipicu akumulasi gas metana yang muncul akibat kondisi cuaca panas dan kering sehingga memicu titik api di dalam tumpukan sampah.
"Enggak ada. Sampai sekarang enggak ada. Ini adanya dari bawah, cuaca panas, ya angin menyebabkan material memunculkan kepulan gas menjadi asap. Gas metan ya sebutannya,” kata Irjen Pol. Hengki.