Waspada Heatstroke dan Dehidrasi Jemaah Haji 2026

11 May 2026 08:49

Jakarta: Seberapa haus yang harus dirasakan seseorang sebelum Anda minum? Kalau jawaban Anda adalah tunggu sampai terasa haus, maka di Makkah, dengan suhu 42 derajat dan kelembaban hanya 12 persen, jawaban itu adalah berisiko. Karena di kondisi seperti itu, rasa haus tidak datang tepat waktu. Keringat langsung menguap sebelum sempat terasa.

Tubuh sudah defisit cairan jauh sebelum sinyal haus muncul. Inilah yang tidak banyak orang tahu. Dan inilah yang hari ini kita luruskan berbasis data.

Data faktual terkini


Ada dua angka yang kita pegang di hari ini yaitu kasus heatstroke. Pertama, dua jemaah Indonesia diduga mengalami heatstroke di sekitar Masjidil Haram di tanggal 2 dan tanggal 3 Mei. Dan telah ditangani oleh tim PKPPJH. Dan satu di antaranya sempat dirawat di rumah sakit karena diduga mengalami komplikasi jantung. Masih dugaan klinis. Namun gejalannya yaitu penurunan kesadaran, kemudian juga terjatuh, suhu tubuh ekstrim sesuai dengan kriteria heatstroke. 

Kemudian yang kedua adalah sudah 20 jemaah Indonesia wafat hingga 9 Mei pukul 8.30 waktu Indonesia Barat. Data ini diperoleh dari dashboard.haji.go.id. Kemenhaj mencatat penyebab terbanyak adalah penyumbatan pembuluh darah ke jantung serta radang paru-paru. 

Dua kasus panas Makkah, bukan anomali. Itu adalah kondisi normal di sana yang berubah hanya satu, tubuh jemaah yang belum terbiasa. Justru karena masih awal, justru karena belum puncak, inilah waktu yang tepat untuk bersiap. Bukan menunggu angkanya bertambah, tapi seberapa panas sebenarnya. Banyak yang sudah dengar angkanya, sekarang kita lihat data yang terverifikasi.

Fact check suhu: 40-50 derajat celcius lebih


Rekor haji atau suhu haji pernah mencapai 51,8 derajat. Para ilmuwan dari klimameter menyebut angka itu 2,5 derajat lebih panas dari sebelumnya. Potensi kenaikan suhu adalah skenario yang harus diantisipasi.

Angkanya sudah jelas, tapi mengapa suhu setinggi itu jauh lebih beresiko dari yang kita bayangkan? Jawabannya bukan di angka termometer, tapi di satu hal yang sering diabaikan. Apa itu? Ya, pertanyaannya mengapa orang bisa collapse tanpa terasa? Ini kuncinya. Di Indonesia dengan iklim tropis yang lembab, keringat rasa basah di kulit.


Mengapa berbahaya: kelembapan 12%


Tubuh tahu dia kehilangan cairan. Rasa haus muncul. Namun kalau di Makkah, kelembaban hanya 12%. Keringat langsung menguap sebelum terasa. Tubuh nggak mengirim sinyal haus. Dehidrasi terjadi diam-diam. Inilah mengapa heatstroke bisa datang tiba-tiba tanpa peringatan. Jemaah nggak merasa haus, nggak merasa lelah, luar biasa. Tapi di dalam tubuhnya sebuah proses sudah berjalan.

Rantai bahaya tiga tahapan menuju heatstroke


Ada empat tahap dan setiap tahap punya waktu untuk diselamatkan. Apa aja itu? Kalau tubuh tidak mengirim sinyal haus, bagaimana kemudian jemaah tahu kapan harus waspada? Jawabannya ini sekali lagi ada di empat tahap yang sering luput dari perhatian. 

Yang pertama adalah heat cramp. Gejalannya kram otot, keringat berlebih. Ini masih bisa dicegah. Kemudian juga adalah heat exhaustion. Lemas berat, pusing, mual, jantung berdebar. Ini kondisinya sudah darurat.

Dan yang ketiga, suhu tubuh di atas 40 derajat. Jemaah bisa mengalami perubahan perilaku dan hilang kesadaran. Dan yang keempat, gagal organ. Ginjal dan jantung yang mulai terganggu. Ini adalah titik yang nggak bisa dibalik ke kondisi normal. Tapi panels bukan satu-satunya masalah.

Ada kebiasaan yang justru membuat tubuh lebih cepat terdampak. Apa itu? Dokter spesialis Saraf yang menjadi Kepala Seksi PPIH Arab Saudi 2026 Dhaker Makkah Dr. Ridwan, menyatakan: "Bukan soal angka, tapi soal perilaku." Kita bisa lihat sama-sama bahwa banyak jemaah yang ternyata yang sengaja mengurangi minum karena takut sering ke toilet. Justru kebiasaan itulah yang meningkatkan resiko dehidrasi secara signifikan.


Anjuran minum resmi: berapa dan bagaimana?


Berapa banyak yang seharusnya diminum? Pemerintah sudah mengeluarkan panduan resmi dan angkanya lebih spesifik dari yang selama ini beredar. ita akan lihat bagaimana sebenarnya jumlah minum atau jumlah asupan minum yang bisa dikonsumsi oleh jemaah haji.

Ada tiga panduan resmi dari pemerintah, yaitu dari pola Dr. Ridwan ini. Pola berkala, kemudian juga pola lume, perjam, dan juga oralit. Dr. Ridwan mengatakan bahwa dua teguk setiap lima menit, ini harus konsisten , tidak tunggu haus. Kemudian volume per jam.

Dari Kapuskes Kaji Kemenkes RI yang menganjurkan 200 ml per jam,  kira-kira 11. Yang ketiga adalah oralit, satu saset per hari.  Dicampur 300 ml air mineral untuk mengembalikan elektrolit yang hilang lewat keringat. Semuanya terverifikasi dari konferensi pers PPIH pusat. 


Indikator urin


Tapi bagaimana kemudian jemaah tahu apakah sudah cukup minum?  Ternyata ada satu cara yang enggak butuh alat apapun dan bisa dilakukan kapan saja. Cara paling mudah untuk jemaah yang saat ini sedang berada di Tanah Suci untuk mengecek kondisi tubuh sendiri adalah lihat warna urin.

Ini adalah lima indikator warna. Bening sampai kuning pucat berarti bagus. Pertahankan konsumsi air minumnya. Kemudian juga ada kuning sedang, ini kondisinya normal, tetap minum secara rutin. Kuning gelap, tanda dehidrasi ringan, segera tambah asupan. Kemudian juga oranye, oranye bisa dehidrasi, bisa juga efek vitamin B yang mempengaruhi warna urin. Kemudian juga adalah coklat atau kemerahan, ini darurat. Segera ke pos kesehatan atau KKHI.


Kebutuhan air per usia


Satu hal yang perlu diluruskan, angka kebutuhan air enggak sama untuk semua orang  dan kelompok yang paling rentan justru yang paling sering kita remehkan. (Kita lihat, apakah kita masuk di kategori yang mana? Anda bisa melihat bahwa dewasa, dewasa usia 19-60 tahun butuh 2-3 liter per hari, tambah 1-1,5 liter saat aktivitas di luar ruangan.

Kemudian lansia di atas 60 tahun secara fisiologis butuh lebih sedikit, sekitar 1,5 liter. Tapi justru lansia inilah yang paling beresiko. Karena apa? Karena sensor rasa haus sudah menurun.
Kenapa? Karena dehidrasi pada lansia bisa memicu demensia yang mendadak. Hipernatremia atau kadar garam darah menjadi tinggi dan tekanan darah yang tidak stabil. Untuk jemaah dengan komorbit seperti diabetes, melitus, dan juga hipertensi, wajib konsultasi dokter karena obat diuretik, obat untuk darah tinggi bisa mempercepat dehidrasi. Satu hal lagi yang penting, jangan minum lebih dari 1,5 liter sekaligus dalam satu jam, karena ini bisa memicu hipernatremia. 


Langkah pemerintah Indonesia


Lantas, pemerintah Indonesia sendiri sudah sejauh mana sih sebenarnya mengantisipasi hal ini? Pemerintah Indonesia nggak tinggal diam. Istitah kesehatan telah diperketat sejak sebelum berangkat.

Tiga vaksin wajib, meningococcus, polio, dan pneumococcus. Ini untuk kemudian lansia. Kemudian juga kuota lansia ditetapkan 10.166 slot dari total kuota nasional. Kemudian juga ada oralit yang dibagikan gratis di bandara dan petugas aktif dengan payung serta semprotan air sejak April lalu. Semuanya sudah berjalan dan bisa diverifikasi. Pada akhirnya, semua data bermuara pada satu pesan.

Semua data yang kita bahas hari ini bukan untuk menakuti-nakuti,  tapi agar para jemaah haji lebih siap, lebih tenang, dan lebih tahu apa yang harus dilakukan ketika tubuh mulai memberi sinyal.  Karena tubuh sebenarnya sangat jujur. Ia selalu berbicara duluan, jauh sebelum masalah menjadi serius. Dari keram kecil, dari warna urin yang berubah, dari rasa pusing yang belum parah. Tinggal satu pertanyaannya, kita mau mendengarkan atau enggak? Jaga hidrasi, kenali gejalanya sejak awal, dan jangan tunggu haus karena di Makkah haus datang terlambat.

Minum yang cukup, kenali batas diri, dan jangan ragu untuk beristirahat. Jangan lupa juga pakai payung jika beraktifitas di luar ruang. Semoga informasi ini pemirsa bermanfaat buat Anda.

Sumber: Redaksi Metro TV

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Wijokongko)