Dua Bencana Satu Komando

26 August 2026 09:19

Jakarta: Dua bencana, dua wilayah, tapi satu komando penanganan. Di Kalimantan, pemerintah bergerak menghadapi kebakaran hutan dan lahan yang mengancam lingkungan serta masyarakat. Sementara itu di Nusa Tenggara Timur, bantuan dan pemulihan terus dikebut setelah gempa mengguncang sejumlah wilayah.

Presiden Prabowo Subianto memerintahkan jajaran pemerintah  untuk memastikan bantuan tidak berhenti di atas meja rapat, tapi benar-benar bergerak sampai ke lapangan.


Dimulai dari Hambalang 


Pada Minggu, 23 Agustus 2026, dari hambalang Bogor, Jawa Barat, Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas bersama sejumlah pejabat pemerintah dan juga jajaran teknik. Ada dua agenda utama besar yang menjadi perhatian. Pertama adalah terkait dengan penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Kedua berkaitan dengan penanganan dampak gempa di NTT.

Dua persoalan dengan karakter yang berbeda, tapi membutuhkan respon yang sama, yaitu cepat, terkoordinasi, dan langsung menyentuh masyarakat. Karena dalam situasi bencana seperti saat ini, dibutuhkan bukan hanya keputusan, tapi juga kecepatan untuk mengeksekusinya. Dalam rapat ini juga menunjukkan bahwa penanganan bencana ini  tidak boleh dilakukan oleh satu lembaga saja.

Siapa yang dipanggil?


Presiden Prabowo Subianto didampingi oleh Sekretaris Kabinet Teddy Indra Widjaya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, serta Kepala BIN Muhammad Herindra. Selanjutnya, dari usur pertahanan hadir Panglima TNI Jenderal Agus Subianto, Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Maruli Simanjuntak, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Muhammad Ali, dan Kepala Staf Angkatan Udara Marseal M Tonny Harjono. 

Dari komposisi ini memperlihatkan bahwa penanganan bencana ini ditempatkan sebagai operasi lintas sektor yang membutuhkan mobilisasi sumber daya negara.


Perintahnya jelas, bantuan harus bergerak


Setelah rapat itu, instruksinya dibuat semakin konkret. Selanjutnya, bahwa perintah Presiden sederhana, tapi sangat menentukan, bantuan harus bergerak. Untuk Kalimantan, fokus diadakan pada penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Kemudian di Nusa Tenggara Timur, perhatian diberikan kepada masyarakat yang terdampak gempa, sekaligus memastikan proses penanganan dan rekonstruksi ini dapat berjalan. Bahkan untuk mempercepat distribusi bantuan, jalur udara dimaksimalkan. Artinya pemerintah tidak hanya berbicara mengenai kebijakan dari pusat, pesawat, personil, pompa, pipa, hingga logistik dikerahkan untuk menjangkau wilayah yang membutuhkan.

Kalimantan dapat tambahan kekuatan


Untuk menghadapi karhutla di Kalimantan, pemerintah menambah kekuatan di lapangan. Sebanyak 17 pesawat waterbombing dikerahkan dan disiapkan untuk mendukung pemadaman dari udara. Kemudian ada 1.500 personil tambahan yang dikerahkan. Ada pula 200 pompa dan pipa yang digunakan untuk perkuat penanganan kebakaran. 

Perangkat sebanyak itu dikerahkan karena kebakaran di kawasan gambut memiliki karakter yang berbeda. Api tidak selalu terlihat di permukaan. Bisa saja bara masih menyala di bawah tanah dan kembali muncul ketika kondisi memungkinkan. Itulah sebabnya pemadaman ini membutuhkan strategi dari udara, sekaligus menangan langsung di darat.


Kenapa harus dengan pesawat?


Selanjutnya mengapa waterbombing menjadi penting? Karena ketika akses menuju titik api sulit dijangkau dari darat, pesawat memungkinkan air dijatuhkan langsung dari udara ke lokasi yang menjadi sasaran. Satu operasi menyasar titik api dari atas, sementara tim di darat melakukan penanganan lanjutan. Tetapi untuk kawasan gambut, persoalan ini lebih kompleks.

Api dapat menjalar dan juga bertahan di bawah permukaan tanah. Karena itu ada 200 pompa dan juga pipa yang digunakan untuk membantu proses pembahasan, maksud kami pembahasan dan juga pemandangan di darat.Jadi strateginya bukan sekedar memandangkan api yang terlihat, tapi juga memastikan sumber api ini benar-benar ditangani agar tidak kembali membesar.

1.500 personel diperkuat di Kalimantan


Selain pesawat dan juga perawatan kekuatan, personel juga ditambah. Ada 1.500 personil diperkuat untuk mendukung operasi penanganan Karhutlah di Kalimantan. Tugasnya juga berlapis. Mulai dari pemadaman, penanganan di lapangan, hingga mendukung keseluruhan operasi. Personel ini juga diperkuat dengan perlengkapan operasional. Karena dalam menghadapi Karhutlah, kecepatan sangat menentukan. Semakin cepat titik api ditemukan, semakin cepat ditangani, semakin besar juga peluang mencegah api semakin meluas. 


Di NTT bantuan tak kunjung henti


Sementara di Kalimantan berjibaku dengan api, perhatian pemerintah juga diarahkan ke Nusa Tenggara Timur. Pascagempa kemarin, banyak warga yang membutuhkan makanan, kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, dan ada wilayah yang harus segera dipulihkan. Karena itu penanganan dilakukan bertahap.

Dimulai dari memastikan keselamatan terlebih dahulu warga yang terdampak, kemudian distribusi bantuan. Setelah kondisi yang memungkinkan, masuk ke dalam rekonstruksi serta pemulihan.


3 pesawat terbang ke NTT


Selanjutnya untuk memastikan bantuan segera sampai, tiga pesawat dikerahkan menuju Nusa Tenggara Timur, dan selanjutnya juga ada tiga pesawat ke NTT dengan membawa sebanyak 31 ton logistik yang dikirim melalui jalur udara menuju Labuan Bajo dan juga Maumere.  

Muatan bantuan di antaranya adalah biscuit dan wafer, roti, protein bar, berbagai kebutuhan pangan, hingga mainan untuk anak-anak. Detail ini ternyata penting. Karena dalam situasi bencana, perhatian tidak hanya soal memenuhi kebutuhan perut saja. Anak-anak juga membutuhkan dukungan dan rasa aman di tengah situasi yang tidak mudah. Pesan besarnya jelas, bantuan harus hadir, dan masyarakat terdampak tidak boleh merasa ditinggalkan.

Korporasi terlibat? Izin dicabut!


Terakhir, Presiden Prabowo Subianto memberikan satu pesan yang jauh lebih keras untuk persoalan karhutla. Penanganan tidak boleh berhenti pada pemadaman. Jika ada korporasi yang terbukti terlibat dalam pembakaran, pemerintah diminta mengambil tindakan tegas. Siapapun, korporasi apapun, ada sedikit indikasi yang memang terkait dengan ini, pesannya jelas bahwa karhutla bukan semata-mata persoalan untuk memadamkan api.

Tetapi juga soal mencari penyebab, mengusut dugaan keterlibatan,dan juga memastikan siapapun yang bertanggung jawab tidak berlindung dibalik nama korporasi. Sebab ketika hutan terbakar, yang dipertaruhkan bukan hanya lahan, tapi juga lingkungan kesehatan masyarakat dan masa depan. Dua bencana, satu komando, dan satu tuntutan utama. Negara harus hadir, cepat bertindak, dan tegas mendidak. 

Sumber: Redaksi Metro TV

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X